Rabu, 11 April 2012

peribahasa A-I beserta artinya

Peribahasa Indonesia Abjad A
Kumpulan peribahasa bahasa Indonesia yang indah untuk hidup yang lebih baik. Baca dan dapatkan inspirasinya di bawah ini:
Ada air, adalah ikan.
Ada negeri tentulah ada rakyatnya.
Ada aku dipandang hadap, tiada aku dipandang belakang.
Kasih sayang hanya waktu berhadapan saja, setelah berjauhan lalu dilupakan.
Ada angin, ada pokoknya (= pohonnya).
Segala sesuatu mestilah ada asal mulanya.
Ada asap ada api
Beberapa hal di dunia ini amat sulit atau bahkan mustahil disembunyikan
Ada bangkai, adalah hering.
Ada perempuan jahat, adalah lelaki jahat yang mengunjunginya.
Ada batang mati, adalah cendawan tumbuh.
Di mana juga kita tinggal, akan ada rezeki kita.
Ada batang, cendawan tumbuh.
Tiap-tiap negeri ada undang-undang dan adat resamnya masing-masing.
Ada beras, taruh dalam padi.
Rahasia hendaklah disimpan baik-baik.
Ada biduk, serempu pula.
Tidak puas dengan apa yang sudah dimiliki.
Ada bukit, ada paya.
Ada baik, ada jahat; ada miskin, ada kaya.
Ada bunga, ada lebah
Orang yang kaya akan digerogoti oleh teman-temannya.
Ada gula, ada semut.
Di tempat orang mudah mendapat rezeki, banyaklah orang berkumpul.
Ada hari, ada nasi.
Asal masih hidup, tentu akan beroleh rezeki.
Ada hujan ada panas, ada hari boleh balas.
Perbuatan jahat itu sewaktu-waktu akan mendapat balasan juga.
Ada jarum hendaklah ada benangnya.
Tiap-tiap suatu itu ada pasangannya.
Ada kerak, ada nasi.
Tiap-tiap suatu kejadian itu tentu ada bekasnya.
Ada laut, ada perampok.
Tiap-tiap suatu itu ada pasangannya.
Ada nasi di balik kerak.
Masih ada sesuatu yang belum diselesaikan atau belum diperhatikan.
Ada nyawa ada rezeki.
Asal masih hidup, tentu akan beroleh rezeki.
Ada padang, ada belalang
Ada negeri tentulah ada rakyatnya.
Ada padi masak, adalah pipit.
Di tempat orang mudah mendapat rezeki, banyaklah orang berkumpul.
Ada padi semua kerja jadi, ada beras semua kerja deras.
Orang yang mampu (= kaya, berilmu) segala maksudnya mudah tercapai.
Ada padi, segala menjadi.
Orang yang mampu (= kaya, berilmu) segala maksudnya mudah tercapai.
Ada paha ada kaki, ada nyawa ada rezeki.
Ssetiap orang mempunyai rezeki dan jodohnya sendiri.
Ada pasang surutnya.
Untung dan malang tidak tetap.
Ada persembahan ada kurnia.
Berbuat baik dibalas baik.
Ada rotan , ada duri.
Dalam kesenangan tentu ada kesusahannya.
Ada rupa, ada harga.
Harga barang menurut rupanya (= keadaannya).
Ada sama dimakan, tak ada sama ditahan.
Baik derita dan bahagia dirasakan bersama-sama.
Ada sampan hendak berenang.
Sengaja bersusah payah.
Ada seperti tampaknya apung-apung.
Barang yang dihajati telah ada tetapi belum tentu dapat diambil atau dipakai.
Ada sirih hendak makan sepah.
Ada yang baik, hendakkan yang buruk.
Ada tangga hendak memanjat tiang.
Berbuat sesuatu dengan tidak menurut aturan.
Ada uang abang disayang, tak ada uang abang ditendang.
Melakukan sesuatu yang baik jika ada maunya saja.
Ada uang abang disayang, tak ada uang abang payah.
Seorang yang mampu mencukupi kebutuhan keluarganya akan dipuji banyak orang, tetapi jika ia tidak mampu akan banyak mendapat caci maki.
Ada ubi ada batas, ada masa boleh balas.
Perbuatan jahat itu sewaktu-waktu akan mendapat balasan juga.
Ada ubi ada talas, ada budi ada balas.
Berbuat baik dibalas baik, berbuat jahat dibalas jahat.
Ada udang di balik batu
Ada maksud yang teersembunyi.
Adakah buaya menolak bangkai
Tiada orang yang akan melewatkan rezeki yang sudah di depan mata.
Adakah dari telagabyang jernih itu mengalir air yang keruh.
Didalam jiwa orang yang baik tidak pernah ada niat yang jahat.
Adakah kayu di rimba sama tinggi
Semua yang ada di dunia ini diciptakan Tuhan dengan segala perbedaannya dengan tujuan untuk saling melengkapi.
Adakah pernah telaga yang keruh mengalir airnya yang jernih.
Sifat dari seseorang yang jahat akan tetap menurun ke dalam darah anaknya.
Adat ayam ke lesung, adat itik ke pelimbahan
Semua orang mempunyai tempat dan rezekinya sendiri-sendiri.
Adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah.
Setiap perilaku haruslah mengacu pada aturan dan kaidah agama.
Adat diisi jannji dilabuh
Peraturan harus dilaksanakan, kesepakatan harus dijalankan.
Adat diisi, lembaga dituang.
Melakukan sesuatu menurut adat kebiasaan.
Adat dipakai baru, pusaka dipakai usang.
Ilmu akan berguna selama-lamanya sedangkan harta duniawi hanya akan musnah dimakan waktu.
Adat gunung tempatan kabut.
Semua permasalahan harus dicari di mana sumbernya permasalahan tersebut berasal.
Adat hidup sandar-menyandar
Setiap orang punya kewajiban untuk saling topang menopang di setiap permasalahan yang dialaminya.
Adat hidup tolong menolong, syariat palu-memalu.
Semua orang saling membutuhkan satu sama lain.
Adat juara kalah menang, adatnya saudagar laba rugi.
Setiap daerah mempunyai ciri khasnya masing-masing.
Adat lama pusaka usang.
Adat istiadat (kebiasaan) tak pernah berrubah.
Adat lurah timbunan sarap.
Orang yang berpangkat biasanya dipenuhi dengan banyak pikiran dan masalah.
Adat muda menanggung rindu, adat tua menahan ragam.
Sebagai orang muda harus belajar menahan emosi dan orang tua harus memberikan bagi yang muda.
Adat muda menggangu rasa, adat tua menggangu ragam.
Ada saatnya seseorang akan mengerti arti kehidupan setelah Dia melewati berbagai macam peristiwa hidup.
Adat penghulu, berpandang luas beralam lapang.
Karakter seorang pimpinan adalah berwawasan luas dan mampu memberikan solusi di setiap permasalahan.
Adat periuk berkerak, adat lesung berdedak . .
Tiap-tiap usaha memerlukan ketabahan dan kerajinan.
Adat pulau limburan pasang. .
Adat hidup ialah bantu-membantu, yang kaya membantu yang miskin dan yang berilmu membantu yang bodoh, yang berkuasa melindungi yang lemah.
Adat rimba raya, siapa berani ditaati.
Orang yang menyelesaikan masalah hanya menggunakan kekuatannya, bukan akalnya.
Adat sepanjang jalan, cupak sepanjang betung .
Segala perbuatan ada adat dan peraturannya masing-masing. betung = Sejenis buluh besar.
Adat teluk timbunan kapal (= kapar). (kapar = kayuan yang hanyutt di sungai dan sebagainya).
Orang yang berpangkat atau berpengaruh biasanya menjadi tempat tumpuan orang mengadukan halnya.
Adat teluk timbunan kapal, adat muara puputan ikan.
Sesuatu harus tepat meletakannya baik itu masalah sosial maupun individu, dan harus tahu kemana tempat harus bertanya.
Adat tua menahan ragam. .
Orang tua-tua terpaksalah menahan (menderita) bermacam-macam godaan yang tak menyenangkan hati karena perbuatan anak cucunya yang tiada berjalan di atas kebenaran.
Adat yang kawi, syarak yang lazim. (kawi = kuat, sakti)
Adat kebiasaan merupakan undang-undang yang berlaku dalam pergaulan dan hukum-hukum agama merupakan undang-undang negeri yang berjalan seiring.
Adat yang menurun, syarak yang mendaki. .
Adat dapat menuju kerendahan dan tidak sanggup menghadapi pergolakan masa, tetapi syarak menuju ketinggian dan dapat mengatasi segala gerakan yang menentangnya.
Agak lebih daripada agih. .
Banyak bicara, sedikit kerja.
Agak-agak bertutur malam hari. .
Mesti selalu beringat-ingat ketika memperkatakan sesuatu.
Agama tanpa ilmu, lumpuh.
Sesuatu yang saling berkaitan dan tidak dapat berjalan sendiri.
Agih-agih kungkang . (kukang = kera kecil).
Terlampau murah hati atau suka memberi, hingga menderita kesusahan sendiri.
Agung susut, pongah masih. (agung = besar, pongah = angkuh).
Kebesaran sudah hilang, tetapi keangkuhannya masih ada juga.
Air beriak tanda tak dalam, air berguncang tanda tak penuh.
Apa yang kita ucapkan dan lakukan bisa mencerminnkan seberapa pandai dan dewasa kita.
Air beriak tanda tak dalam. .
Banyak bercakap tanda tiada berilmu.
Air besar sampan tak hanyut. .
Maksud tidak tercapai.
Air besar, batu bersibak. (sibak = cerai, menepi).
Saudara dan sahabat berpecah-belah apabila timbul perselisihan besar.
Air dalam karang menonggok, setanggi campur kemenyan , gula tertumpah pada kanji.(menonggok = melonggok, menimbun).
Usaha yang berhasil baik.
Air dalam terenang. (terenang = tempat air daripada tanah liat.)
Hidup yang tenang dan tenteram.
Air dalam, berenang (= berkumbah); air dangkal, bercebok. (kumbah = mencuci dalam air).
Sesuaikanlah perbelanjaan menurut keadaan penghasilan kita.
Air di daun keladi (= talas). .
Memberi nasihat dan ajaran yang sia-sia.
Air di tulang bumbungan, turunnya ke cucur atap. .
Sesuatu itu, meskipun sedikit, akan menurut asalnya juga.
Air dicencang tiada putus. .
Dua orang yang bersaudara tidak dapat dipisahkan oleh perselisihan.
Air didih menganak sungai . .
Hiburan yang sangat mewah.
Air digenggam tiada tiris. .
Sangat berhati-hati mengeluarkan uang.
Air diminum sembiluan. .
Sangat sedih, sehingga tidak enak makan dan minum. sembiluan = rasa pedih seperti dihiris dengan sembilu.
Air gedang menghanyutkan. (gedang = besar)
Orang yang pendiam itu biasanya berilmu dan dapat melakukan pekerjaan yang besar-besar.
Air jernih, ikannya jinak. .
Negeri yang aman dan teratur, rakyatnya berbudi bahasa.
Air keruh, limbat keluar. .
Negeri yang huru-hara, orang jahat mencari keuntungan.
Air lalu kubangan tohor. (tohor = dangkal, kering.) .
Penghasilan tidak cukup; habis bulan habis gaji.
Air laut hijau siapa celup? .
Kemegahan dan kemewahan tidak payah diheboh-hebohkan.
Air mata jatuh ke dalam. .
Berdukacita dengan diam-diam.
Air mudik sungai , semua teluk diranai. (ranai = jalani (boleh jadi rranahi)).
Orang pemboros berbelanja tanpa perhitungan. .
Air orang disauk, ranting orang dipatah, adat orang diturut. .
Hendaklah patuh kepada undang-undang negeri yang kita diami.
Air pun ada pasang surutnya, takkan pasang selalu dan surut senantiasa. .
Nasib manusia tidak dapat ditentukan.
Air sama air menjadi satu, sampah ke tepi juga. .
Jangan ikut campur dalam perselisihan orang bersaudara, apabila mereka berbaik kembali, kita akan tersisih ke tepi.
Air setitik dilautkan, tanah seketul digunungkan. .
Membesar-besarkan perkara yang kecil.
Air surut kapar hilir bersama, air pasang ia tersangkut. .
Di dalam usaha yang tidak menguntungkan, diajak bersama-sama, dan apabila usaha itu berhasil, ditinggalkan.
Air susu dibalas dengan air tuba . .
Kebaikan dibalas dengan kejahatan.
Air tawar secawan dituangkan ke dalam laut, takkan dapat menghilangkan masinnya..
Pertolongan yang sedikit tidak dapat meringankan beban kesengsaraan yang besar.
Air tenang menghanyutkan. .
Orang yang pendiam itu biasanya berilmu dan dapat melakukan pekerjaan yang besar-besar.
Air tuba dibalas dengan air susu . .
Kejahatan dibalas dengan kebaikan.
Air yang jernih, sayak yang landai. (sayak = tempurung kelapa .)
Segala sesuatu berlaku dengan adil dan benar.
Air yang keruh-keruh kerak, alamat buaya di hulunya.
Daripada perkataan dapat dimaklumi niat di dalam hati.
Air yang tenang, jangan disangka tiada berbuaya . .
Orang yang diam jangan disangka pengecut.
Akal akar berpulas tak patah. .
Orang yang pandai, takkan mudah kalah dalam perdebatan.
Akal labah-labah ; di gua buruk suka merakut. (merakut = memasang jaring).
Orang jahat yang suka menipu orang.
Akal sebagai makan nasi lecek. .
Pikiran seperti anak-anak.
Akal singkat, pendapat kurang.
Orang yang masih sedikit sekali pengalamannya.
Akal tak sekali datang, runding (= fikiran) tak sekali tiba. .
Segala sesuatu tidak selesai sekali gus melainkan beransur-ansur.
Akan dijadikan tabuh, singkat; akan dijadikan gendang , berlebih. .
Ilmu pengetahuan yang serba tanggung.
Akan memikul tiada berbahu, akan menjunjung kepala luncung. .
Tiada berdaya mengerjakan sesuatu pekerjaan, karena tiada berilmu atau tidak beruang.
Akan mengaji, surat 'lah hilang; akan bertanya, guru 'lah mati. .
Dalam keadaan yang serba salah.
Akan pembasuh kaki (= tangan). .
Hadiah kepada orang yang berjasa.
Akar terjumbai tempat siamang berpegang (= bergantung), dahan mengajur tempat tupai menegun.
Daripada keterangan, orang dapat mengetahui salah atau benarnya perbuatan seseorang.
Akik disangka batu. (Akik = sejenis batu berwarna).
Sesuatu yang menghina.
Aku alah engkaulah menang. .
Tidak malu mengaku kalah.
Aku alah, engkau tak menang. .
Orang bodoh yang tak mahu mengakui kekalahannya.
Aku nampak olah (= olak), kelibatmu sudah kutahu.
Karena tingkah laku, maksudnya ketahuan.
Alah bisa, oleh (= karena, tegal) biasa. .
Apabila telah biasa melakukannya, maka tiada terasa lagi kesukarannya; pengalaman praktis lebih baik daripada teori.
Alah di rumpun betung .
Kekalahan yang belum memuaskan hati kepada pihak yang kalah.
Alah limau oleh benalu.
Orang yang lama dikalahkan oleh orang yang baru.
Alah mahu, bertimbang enggan; cungkil merih akan pembayar. .
Tidak menepati janji dan menentang balik orang yang diberinya janji itu. (merih = pembuluh nafas.)
Alah main menang sorak.
Orang yang berada dalam keadaan berimbang.
Alah membeli, menang memakai. .
Barang yang baik memang mahal, tetapi dapat lama dipakai.
Alah menang tak tahu, bersorak boleh. .
Tidak berpihak ke mana-mana dalam sesuatu perlawanan.
Alah pinta dibuat sempena. .
Biar bagaimanapun diharapkan, kalau bukan hak tidaklah diperoleh.
Alah sabung, menang sorak. .
Biarpun kalah, tetapi masih tetap tinggi juga cakapnya.
Alang berjawab, tepuk berbalas. (alang = pemberian, hadiah).
Baik dibalas dengan baik, jahat dibalas dengan jahat.
Alang-alang berdakwat , biarlah hitam. (alang-alang = tanggung-tanggung).
Berbuat sesuatu jangan kepalang tanggung.
Alang-alang menyeluk pekasam, biar sampai ke pangkal lengan. .
Kalau sudah terlanjur jahat, biarlah diperoleh hasil daripadanya.
Alangkan baik (= elok) berbini tua, perut kenyang pengajaran (= pemanja) datang. .
Orang beristeri tua biasanya beroleh kesenangan karena disayangi oleh isterinya.
Alim bagai katak di tepi air. .
Orangnya alim (banyak ilmu) tetapi dia sendiri tidak mendapat faedah daripada ilmunya itu.
Alim biasa menghukum syarak . .
Hanya orang yang alim saja yang boleh membuat hukum syarak .
Alpa negeri alah, sia-sia hutang tumbuh. .
Alpa dan lalai mengakibatkan bencana.
Alu patah lesung hilang.
Masalah pertama baru selesai sudah mendapat masalah yang baru lagi.
Alu pencungkil duri. .
Tak mungkin dilakukan; pekerjaan yang sia-sia.
Alur bertempuh, jalan berturut. .
Dilakukan menurut adat yang biasa.
Amak berlela, amak berupa. .
Banyak tabiat, banyak olehnya. (amak = terlalu banyak.)
Ambil pati, buangkan ampas. .
Yang baik dipakai, yang tak baik dibuang.
Ambil pisau, belahlah dada.
Ingin menunjukan kebenaran yang ada pada dirinya sendiri.
Ampang sampai ke seberang, dinding sampai ke langit.
Melakukan hal yang baik sebaiknya dengan maksimal agar tercapai dengan sukses tujuan tersebut.
Amra disangka kedondong . (amra = sejenis mangga).
Sesuatu yang baik disangka buruk, hanya karena melihat rupanya sama dengan yang buruk.
Anak anjing takkan menjadi anak musang jebat. .
Orang yang tidak berilmu tidaklah mungkin mendapat kedudukan baik.
Anak ayam kebasahan bulu. .
Gelisah resah; menjijikkan.
Anak badak dihambat-hambat. .
Sengaja mencari bahaya (kesukaran dan sebagainya).
Anak baik, menantu molek. .
Sangat berbahagia.
Anak di riba diletakkan, kera di hutan disusu i. .
Urusan sendiri ditinggalkan karena mementingkan urusan orang lain.
Anak halal zadah.
Orang yang tidak memiliki status apapun.
Anak haram zadah.
Seorang yang terlahir karena perbuatan yang tidak sah.
Anak harimau diajar makan daging. .
Orang yang zalim diberi perangsang untuk membuat aniaya.
Anak harimau jangan diajak bertampar, ingat-ingat kukunya. .
Jangan mencari musuh dengan orang yang lebih kuat dan lebih persediaan alat senjatanya.
Anak harimau jangan dibela pelihara. .
Jangan berbuat baik dengan orang yang suka berbuat jahat.
Anak harimau menjadi anak kambing.
Orang yang lupa darimana ia berasal dan mulai sombong karena harta duniawi.
Anak harimau takkan menjadi anak kambing]. .
Orang yang berani takkan penakut.
Anak ikan dimakan ikan, tahu makan tahu simpan. .
Jikalau tahu membuat sesuatu kerja, hendaklah tahu menyimpan Rahasianya.
Anak kambing takkan menjadi anak harimau. .
Orang yang pengecut tetap pengecut.
Anak kandung ditimang-timang, anak tiri ditengking-tengking. .
Kaum keluarga sendiri dilebihkan daripada orang asing, atau rakyat sendiri lebih diutamakan daripada orang dagang.
Anak kera hendak diajar memanjat. .
Hendak mengajar orang yang sudah ahli.
Anak kucing menjadi harimau. .
Orang miskin menjadi kaya, atau rakyat biasa menjabat pangkat tinggi dalam pemerintahan.
Anak kuda bulu kasap. .
Anak muda yang riang gembira.
Anak kunci jahat, peti derhaka. .
Suami yang jahat, lambat-laun akan ditentang oleh isterinya.
Anak mati berkalang bapak, bapak mati berkalang anak.
Orang yang saling topang menopang dalam segala hal.
Anak monyet di hutan disusu i, anak sendiri di rumah kekeringan. .
Urusan sendiri ditinggalkan karena mementingkan urusan orang lain.
Anak orang anak orang juga, bolehkah jadi anak sendiri?
Lebih memiliki kepunyaan sendiri dari pada menginginkan milik orang lain.
Anak orang, anak orang juga. .
Kalau bukan hak kita tidaklah ada gunanya.
Anak panah yang lepas dari busurnya, tak dapat di kendalikan.
Orang yang jauh dari negeri tempat asalnya pasti bertindak semaunya sendiri tanpa mau mendengarkan kontrol dari keluarganya.
Anak rancak menantu sating.
Meraih kebahagiaan.
Anak semata wayang.
Satu-satunya harta yang dimiliki.
Anak sendiri disayang, anak tiri dibengkeng. .
Kaum keluarga sendiri dilebihkan daripada orang asing, atau rakyat sendiri lebih diutamakan daripada orang dagang.
Anak sendiri disayang, anak tiri dihardik.
Perbuatan yang tidak patut di contoh atau tidak adil.
Anak seorang, menantu malim. (malim = ahli agama).
Sangat berbahagia.
Anak seorang, penaka tidak. (penaka = boleh di pandang sebagai; semisal; seumpama).
Mempunyai barang hanya sebuah saja.
Anak sungai lagi berubah, inikan pula hati orang. .
Pendirian yang tidak tetap.
Angan lalu, faham tertumbuk. .
Sesuatu hal yang banyak halangannya; kemahuan ada tetapi tidak berdaya.
Angan-angan menerauang langit.
Selalu mencita-citakan segala sesuatu yang tinggi.
Angan-angan mengikat tubuh.
Besusah hati karena memikirkan perkara yang bukan-bukan.
Angguk enggan, geleng ia; Angguk enggan, geleng mahu, unjuk tridak berikan.
Lain di mulut, lain di hati.
Angguk-angguk balam.
Mengatakan bisa tetapi belum tahu apa yang harus ia kerjakan.
Anggup-anggip bagai rumput di tengah jalan. (anggup-anggip = terkulai-kulai).
Hidup yang serba susah.
Angin berputar, ombak bersabung.
Perkara yang amat sulit.
Angin bersiru, kami tahu.
Sudah tahu akan niat seseorang. (bersiru = beralih tujuan.)
Angin bersiru, ombak bersabung.
Perkara yang amat sulit.
Angin tak dapat ditangkap, asap tak dapat digenggam.
Berita-berita yang buruk tak dapat disembunyikan, kelak akan tersiar juga.
Angkat batang keluar cacing gelang-gelang.
Berpenat-penat mengerjakan pekerjaan orang yang tinggal terbengkalai, tetapi suatu faedah pun tidak diperoleh daripadanya.
Angkuh terbawa, tampan tertinggal.
Baik rupanya, tetapi buruk sikapnya.
Angus (hangus) tiada berapi, karam tiada berair.
Menderita kesusahan karena kematian atau kehilangan kekasih.
Anjing bercawat ekor.
Pergi atau menghindar karena malu dan sebagainya.
Anjing biasa makan tahi, jika tak makan mencium ada juga.
Orang yang biasa berbuat jahat, sekali-sekala teringat juga akan mengulangnya lagi.
Anjing diberi makan nasi takkan kenyang.
Sia-sia memberi basihat yang baik kepada orang jahat.
Anjing ditepuk menjungkit ekor.
Orang hina apabila dihormati, sombonglah jadinya.
Anjing galak, babi berani.
Bertemu lawan yang sepadan; berani sama berani, keras sama keras.
Anjing itu, kalau dipukul sekalipun, berulang juga ia ke tempat bangkai yang banyak tulang.
Orang yang tamak, sekalipun dikata-katai, namun ia tidak akan malu.
Anjing itu, meskipun dirantai dengan rantai emas, nescaya berulang-ulang juga ia ke tempat najis.
Orang jahat, biarpun diberi kesenangan, namun kalau mendapat kesempatan akan diulangnya juga perbuatan jahatnya itu.
Anjing kepada orang, raja kepada kita.
Buruk baik anak sendiri juga.
Anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu.
Tidak ada kata menyerah demi mencapai suatu tujuan yang mulia.
Anjing menyalak bukit, takkan runtuh.
Orang baik yang dicela oleh orang jahat, tentu tidak akan binasa kebaikannya.
Anjing menyalak di ekor (= dipanjat) gajah.
Orang lemah (hina) mencuba hendak melawan orang yang berkuasa, tentulah perbuatannya itu sia-sia saja.
Anjing menyalak tiada mengigit.
Orang yang berhati mulia, walaupun suara keras.
Anjing terpanggang ekor.
Mendapat kesusahan besar sehingga tak tentu tingkah lakunya, meminta pertolongan ke sana ke mari.
Anjing tiada bercawat ekor.
Sesuatu yang hina dan tiada berguna.
Anjur surut bak bertanam.
Tipu muslimat dalam melakukan pekerjaan.
Antah berkumpul sama antah, beras bersama beras.
Setiap orang selalu mencari orang yang sama derajat (darjat, pangkat ataupun kedudukan) dengannya.
Antan patah, lesung hilang.
Kemalangan yang bertimpa-timpa.
Antara dua tengah tiga.
Sakit hampir mati.
Apa boleh buat, nasi sedap menjadi tawar.
Susah hati dapat mengubah perangai seseorang.
Apa boleh buat, sakit menimpa sesal terlambat.
Sudah terlanjur, tak dapat diubah lagi.
Apa digaduhkan: pengayuh sama di tangan, perahu sama di air.
Tidak takut menghadapi lawan apabila sama-sama mempunyai kebolehan.
Apa guna bunga ditanam, jika tidak diberi kumbang menyerinya.
Apa guna anak perempuan, jika tidak diberi bersuami.
Apa gunanya bulan terang di dalam hutan, jikalau di dalam negeri betapa baiknya.
Tidak berfaedah menunjukkan kepandaian kepada orang-orang yang tidak dapat menghargainya.
Apa kepada kukur, nyiur juga yang binasa.
Memang mudah menyuruh berbuat begini begitu, tetapi yang sukar ialah yang mengerjakannya.
Apa kurang pada belida, sisik ada tulang pun ada.
Cukup mempunyai segala yang diperlukan.
Apa payahnya menawakkan (= menaupkan) bibir atas bawah.
Mudah menyebut, tetapi susah mengerjakannya.
Apa payahnya menggoyangkan lidah saja.
Banyak janji tetapi tidak ditepati.
Apa peduli kata kukuran, kerambi juga akan habis.
Lebih mudah berkata daripada melakukannya sendiri.
Apa sakit berbini janda, anak tiri boleh disuruh.
Alasan yang berlawanan dengan maksud yang sebenarnya.
Apa tampangnya, itulah tumbuhnya.
Hasil sesuatu pekerjaan itu menurut ukuran usaha yang kita kerjakan.
Apa yang di tanam, itulah yang tumbuh.
Jika orang berbuat baik kepada orang lain maka ia juga akan mendapat balasan yang baik pula dari orang lain.
Apabila orang miskin menghendaki uang, dia mendapat anak; apabila orang kaya menghendaki anak, dia mendapat uang.
Hasil yang berlawanan dengan keinginan; lain yang dihajati lain yang diperoleh.
Apabila tumbuh-nyiur itu patah, tumbuh-nyiur juga akan gantinya.
Ganti yang hilang mestilah yang sama pula.
Apakah gunanya kemenyan disimpan sebesar tungku , kalau tidak dibakar.
Kepandaian hendaklah diajarkan kepada orang lain, karena kalau disimpan ia akan hilang begitu saja.
Apakah gunanya memasang dian di tengah hari, jika malam alangkah baiknya.
Perkara yang sudah diketahui orang tak perlu diterangkan lagi.
Apalagi sawa , ia berkehendakkan ayamlah|
Orang yang suka mencari barang-barang yang digemarinya; orang yang bertemu dengan barang kesukaannya.
Apalah daya ajal telah menjemput.
Hal yang tak bisa dipungkiri karena takdir.
Api dengan air, alangkah bezanya.
Jahat dengan baik amat jauh bedanya.
Api itu, tatkala kecil menjadi kawan, apabila besar menjadi lawan.
Kejahatan yang sedikit itu hendaklah lekas diperbaiki supaya jangan sampai melarat.
Api kecil baik dipadam.
Basmilah kejahatan itu semasa ia kecil lagi.
Api makan sekam (= dedak ).
Perbuatan jahat atau rindu dendam yang tersembunyi.
Api nan tak kunjung padam.
Semangat yang hidup selama-lamanya. kunjung = segera, lekas.
Api padam puntung berasap. (puntung = sisaa kayu api yag dibakar).
Perkara yang telah putus, tetapi ditimbulkan kembali.
Api padam puntung hanyut, kami tidak di situ lagi.
Cerita yang sudah tamat; benar-benar sudah selesai.
Apung di tengah lautan; dipukul ombak, sekejap ke tengah sekejap ke tepi.
Orang dagang yang melarat hidupnya.
Ara tak bergetah.
Suatu perkara yang mustahil.
Arah bertukar jalan.
Banyak cara untuk mewujudkan mimpi.
Arang di dahi (= di kening, di muka).
Mendapat malu.
Arang habis besi binasa.
Pekerjaan yang sia-sia.
Arang habis panggang tak masak.
Orang yang merintis usaha tapi gagal, karena pengeluaran lebih banyak daripada keuntungannya.
Arang itu, jika dibasuh dengan air mawar sekalipun, tiada akan putih.
Orang jahat, biarpun diberi kesenangan, namun kalau mendapat kesempatan akan diulangnya juga perbuatan jahatnya itu.
Asak kata kita, angsur kata dia.
Perbedaan antara orang satu dengan orang yang lain.
Asal ada kecil pun pada.
Kalau tak ada banyak, sedikit pun cukup juga.
Asal ayam hendak ke lesung , asal itik hendak ke pelimbahan.
Tabiat orang tak mungkin berubah.
Asal berinsang ikanlah.
Tidak memilih (pekerjaan, makanan, perempuan dan sebagainya).
Asal berisi tembolok senang hati.
Sudah cukup makan dan pakai maka senanglah hati.
Asal bersubang emas biarlah telinga rompong.
Orang yang melakukan hal yang merugikan dirinya sendiri dengan tujuan mendapat pujian dari orang lain.
Asal besi pengapak kayu, asal emas menjadi penduk.
Derajat seseorang dapat ditentukan pada sifat perangainya. penduk = salut sarung keris.
Asal ditugal, adalah benih. (tugal = melubagi tanah kebun dengan kayu akan tempat menanam benih).
Sesuatu usaha tentu ada hasilnya.
Asal kuda dari kuda, asal keledai dari keledai.
Semua sifat anak berasal dari kedua oragtuanya, baik ataupun buruk sifat tersebut.
Asal sabut terapung, asal besi tenggelam.
Untung-untungan; kalau bernasib baik tentu selamat, kalau bernasib malang tentu jatuh.
Asal selamat ke seberang, biar bergantung di ekor buaya .
Sangat perlu akan pertolongan, betapa pun jua pertolongan itu akan diterimanya.
Asal-usul, asal jangan ditinggallkan.
Melihat suatu bencan alam dan menelusuri penyebab terjadinya bencana tersebut.
Asam di darat ikan di laut, bertemu dalam belanga juga.
Perempuan dan lelaki, kalau sudah jodoh, bertemu juga akhirnya.
Asam digunung, garam di laut, dalam belanga bertemu jua.
Orang yang merantau sejauh apapun akan kembali juga ke tempat asalnya.
Asing lubuk asing ikannya.
Tempat satu dengan yang lain berbeda hukumnya.
Asing lubuk asing ikanya, asing pandang asing belakangnya.
Perataturan di masing-masing daerah berbeda tetapi tetap satu tujuan demi keamanan daerah tersebut.
Asing maksud, asing sampai.
Orang yang berlabuh di tempat yang bukan tujuannya.
Asing padang asing belalang, asing lubuk asing ikanya.
Perbedaan adat di masing-masing daerah.
Asing uang, asing nikmat.
Menerima rezeki yang tidak dikendakinya.
Asing udang, lain nikmat.
Ada banyak cara untuk menyelesaikan suatu masalah yang setiap orang berbeda cara penyelesaiannya.
Asyik memangku tangan, mati dalam angan-angan.
Tak akan tercapai maksudnya, kalau tak mahu berusaha.
Atap ijuk berabung upuh (timah).
Perbedaan dua hal yang sangat mencolok.
Atap ijuk kerabung upih.
Sesuatu yang baik apabila dicampur dengan sesuatu yang buruk akan tercemar kebaikan tersebut.
Atap rumbia perabung upih, rumah besar berdinding papan.
Barang yang baik dicampurkan dengan barang yang buruk.
Aur ditanam betung tumbuh.
Mendapat laba banyak dengan modal yang sedikit.
Aus telunjuk mencolek garam .
Hidup dalam kemiskinan.
Awak alah gelanggang usai. (usai = lengang.)
Ditimpa kemalangan yang tak dapat diatasi lagi.
Awak hendak hilir, ia telah hanyut.
Cita-cita yang telah didahului oleh orang lain.
Awak kecil makan hendak banyak, sayap singkat terbang hendak tinggi.
Mengangan-angankan sesuatu yang tidak sepadan dengan kesanggupan diri sendiri.
Awak kurus daging menimbun.
Orang kaya yang berpura-pura miskin.
Awak menangis diberi pisang.
Bujukan (pujukan) yang tepat.
Awak rendah sangkutan tinggi.
Besar belanja daripada pendapatan.
Awak tikus, hendak menampar kepala kucing .
Melakukan sesuatu yang mustahil.
Awak yang celaka, orang yang diumpat.
Dirinya sendiri yang bersalah (karena kemalangan, kecelakaan, kekalahan dan sebagainya), orang lain pula yang disesalkan.
Awak yang payah membelah ruyung, orang lain yang beroleh sagunya. (ruyung = batang pohon enau).
Orang lain yang bersusah payah, orang lain pula yang mendapat faedahnya.
Awal dibuat, akhir diingat.
Sebelum membuat sesuatu pekerjaan hendaklah difikirkan masak-masak supaya selamat pekerjaan itu.
Awal diingat di akhir tidak.
Orang yang tidak memperhitungkan resiko di kemudian hari.
Awal dikenal akhir tidak, alamat badan akan rosak.
Orang yang tak berhati-hati lakukan pekerjaannya (yang baiknya saja yang diingat) tentulah akhirnya akan menyesal dan kecewa.
Awan berarak ditangisi.
Merenungi kejadian yang telah lama berlalu.
Awan mengandung hujan.
Memprediksi hal yang belum pasti akan terjadi.
Ayam baru belajar berkokok.
Baru cukup umur.
Ayam berinduk, sirih berjunjung.
Tiap-tiap yang lemah harus mendapat bantuan dan perlindungan.
Ayam berkoko hari siang.
Mendapatkan sesuatu yang telah lama diidam-idamkan.
Ayam berlaga sekandang.
Berkelahi dengan orang serumah.
Ayam beroga itu, kalau diberi makan di pinggan emas sekalipun ke hutan juga perginya. (ayam beroga = ayam hutan.)
Bagaimana senangnya di negeri asing, ingat juga kita akan negeri sendiri.
Ayam bertelur di atas padi, mati kelaparan.
Sangat menderita kesusahan meskipun bergaji besar (beristerikan atau bersuamikan orang kaya) atau hidup miskin di negara yang kaya dan makmur.
Ayam bertelur di atas padi.
Hidup senang dan mewah.
Ayam dapat, musang dapat.
Pencuri tertangkap, barang-barangnya pun tidak hilang.
Ayam ditambat disambar elang, padi di tangan tumbuh lalang.
Malang sekali; nasib yang buruk.
Ayam hitam terbang malam bertali ijuk, bertambang tanduk, hinggap di kebun rimbun.
Kejahatan (perkara dan sebagainya) yang dilakukan di dalam sulit, sukar diketahui.
Ayam hitam terbang malam, siapa tahu berdebus buntinya.
Menebak hal yang sulit untuk di peroleh.
Ayam itik, raja pada tempatnya.
Tiap-tiap orang ahli dalam urusannya masing-masing.
Ayam menang, kampuh (= kampung) tergadai.
Keberuntungan yang tidak ada faedahnya.
Ayam pulang ke pautan.
Sudah pada tempatnya.
Ayam putih terbang siang, hinggap di halaman, terang kepada mata orang banyak.
Perkara yang nyata mudah ketahuan.
Ayam seekor bertambang dua.
Gadis seorang, dua bujang yang ingin.
Ayam sudah patah, kalau-kalau dapat menikam.
Orang yang telah jatuh melarat itu mungkin akan berubah nasibnya.
Ayam tak patuk, itik tak sudu.
Keadaan orang yang hina dalam masyarakat.
Ayam tambat disambar elang, padi ditanam tumbuh ilalang.
Orang yang tertimpa masalah di mana pun ia berada.
Ayam terlepas, tangan bau tahi.
Kejahatan yang tidak mendatangkan hasil, melainkan malu semata-mata.
Ayam tidur senang di dalam reban, musang yang susah beredar sekeliling.
Tidak senang melihat kebahagiaan orang
Peribahasa Indonesia Abjad B
Babi merasa gulai.
Menyimpan rahasia yang telah diketahui umum.
Bacang dibungkus tentu baunya keluar juga.
Kiasan kepada orang yang membuang anaknya sendiri karena takut malu dan sebagainya.
Badai makan anak
Ayah membuang anak karena takut kebesarannya akan hilang .
Badai pasti berlalu
Kesulitan hidup pasti akan berkurang dan akhirnya akan hilang
Badak makan anak.
Bagaimana sekalipun orang berkasih-kasihan, tetapi dengan mudah juga dapat diceraikan, karena orang lebih mengutamakan harta-benda.
Badan bersaudara; emas perak tiada bersaudara; kasih saudara sama ada, kasih bapa menokok harta yang ada, kasih ibu sama rata; kasih sahabat sama binasa.
Walaupun orang-orang lemah itu di bawah kuasa orang kuat, tetapi hatinya bebas lepas.
Badan boleh dimiliki, hati tiada boleh dimiliki.
Sudah sehidup semati.
Badan sudah dua senyawa.
Tidak tetap pendirian; selalu berubah-ubah.
Bagai air daun talas (= keladi).
Berusaha untuk mencari ilmu dengan tidak berhenti-henti; usaha dengan tidak mengenal jerih payah.
Bagai air itik ke batu.
Lemah dan lesu tanpa penyakit.
Bagai air mencari jenisnya.
Memberi nasihat dan ajaran yang sia-sia.
Bagai anak dara mabuk andam. (andam = anak rambut di dahi).
Anak perempuan yang tiada malu, pemalas dan pengotor.
Bagai anak dara sudah berkaki.
Banyak sekali.
Bagai anak nangui. (nangui = Babi kecil yang banyak anaknya).
Berbaring dan bermalas-malas saja di rumah orang lain.
Bagai anak sepat ketohoran.
Kurus sekali.
Bagai anjing beranak enam.
Orang yang sangat benci oleh masyarakat.
Bagai anjing buruk kepala.
Sangat gembira; sangat gembira; sangat sombong.
Bagai anjing melintang denai. (denai = jejak binatang di hutan).
Mendapat kesusahan besar sehingga tak tentu tingkah lakunya, meminta pertolongan ke sana ke mari.
Bagai anjing tersepit di pagar.
Mudah menimbulkan sesuatu hal yang tak baik kalau diperdekatkan.
Bagai api dengan rabuk.
Tidak terus berjalan ke tempat tujuan, tetapi singgah-singgah di jalan.
Bagai ara hanyut.
Satu sama lain bertolong-tolongan.
Bagai aur bergantung ke tebing, bagai tebing bergantung ke aur.
Menyerahkan diri kepada nasib.
Bagai aur dengan tebing.
Tolong-menolong di antara satu sama lain.
Bagai ayam dibawa ke lampok. (lampok = onggok padi disabit; limpap).
Pucat dan kuning karena menghidap penyakit; sangat gelisah kelakuannya.
Bagai ayam dimakan (= kena) tungau.
Mati tanpa sakit.
Bagai ayam disambar [helang|elang]].
Tidak dapat berbuat apa-apa; bingung.
Bagai ayam lepas bertaji.
Seseorang mendapat kesusahan dan orang lain serba salah untuk menolongnya.
Bagai ayam mabuk tahi.
Pucat lesi dan tidak berdaya sebab sakit dan kurang darah.
Bagai ayam mengarang telur. (mengarang telur = hampir bertelur).
Peri keelokan, merah muka seseorang.
Bagai ayam naik ke surau.
Bertamu ke rumah orang yang tidak memberi jamu apa-apa.
Bagai ayam si tombong, kokok berderai-derai, ekor bergelumang tahi. (tombong = sombong.)
Seseorang yang cakapnya tinggi tetapi keluarganya dalam kemelaratan.
Bagai ayam yang terkecundang. (kecundang = kalah).
Sangat ketakutan.
Bagai bajak uangkang makan diangkat.
Orang yang gemar dipuji.
Bagai balak terendam.
Orang gemuk yang malas bergerak.
Bagai belacan dikerat dua: yang pergi busuk, yang tinggal hanyir.
Perkara yang mendatangkan aib kepada kedua-dua belah pihak.
Bagai beliung dengan asahan.
Tidak pernah berpisah.
Bagai belut digetir (= diketil) ekor.
Cepat sekali.
Bagai belut diregang.
Tinggi dan kurus.
Bagai berkain tiga hasta.
Serba tak cukup (miskin).
Bagai bersahabat dengan ular bisa.
Berkawan dengan orang yang jahat.
Bagai berseru di padang pasir.
Seruan yang tidak diendahkan orang.
Bagai bersumur di tepi rawa.
Orang yang selalu cemburu.
Bagai bertanak di kuali.
Terlalu murah hati sehingga binasa karenanya.
Bagai bertemu (= makan) buah si malakamo; dimakan mati bapa, tidak dimakan mati ibu.
Menghadapi sesuatu masalah yang sangat sulit; dalam keadaan yang serba salah.
Bagai bertepuk sebelah tangan.
Cinta kasih yang tidak berbalas.
Bagai beruk kena ipuh. (ipuh = racun.)
Menggeliang-geliut (karena kesakitan dan sebagainya).
Bagai berumah di tepi tebing.
Selalu dalam kekuwatiran.
Bagai besi dengan penempa.
Orang lemah di bawah kuasa orang kuat.
Bagai biawak mengulangi bangkai.
Lelaki yang suka pergi ke tempat perempuan jahat.
Bagai buah keras di dalam sekul. (buah keras = kemiri; sekul = mangkuk yang diperbuat daripada tempurung kelapa.)
Bercakap dalam keadaan tergopoh-gopoh.
Bagai bulan empat belas.
Kecantikan wajah seseorang wanita.
Bagai bulan penuh mengambang di kaki awan.
Perempuan cantik yang keluar dari rumahnya karena hendak berjalan.
Bagai buntal kembung.
Bodoh dan sombong.
Bagai bunyi cempedak jatuh.
Bunyi jatuh yang kuat.
Bagai bunyi orang dikoyak harimau.
Berteriak-teriak atau melolong dengan kuat.
Bagai bunyi perempuan di air. (di air = di tempat mandi.)
Ramai (= riuh) sekali.
Bagai bunyi siamang kenyang.
Banyak cakapnya dan sebagainya karena mendapat kesenangan.
Bagai cacing gila. (cacing gila = cacing yang berputar-putar bila disentuh.)
Perempuan yang suka berpergian, bertandang dan sebagainya.
Bagai cacing kena air panas.
Tidak tenang, selalu gelisah (karena susah, malu dan sebagainya).
Bagai cembul dapat tutupnya.
Sesuai benar.
Bagai dakwat dengan kertas.
Tak pernah bercerai; sangat cocok.
Bagai dekan di bawah pangkal buluh. (dekan = ulat yang makan buluh.)
Pandai menyembunyikan rahasia.
Bagai denai gajah lalu.
Pekerjaan atau kejadian yang payah benar hendak disembunyikan.
Bagai dihiris dengan sembilu.
Pedih sekali rasa hatinya.
Bagai diikat dengan sehasta tali.
Dalam keadaan yang sangat terbatas.
Bagai dirahap kain basah. (rahap = bungkus.)
Dingin sejuk sekujur badan karena mendengar kabar atau melihat kejadian yang sedih dan ngeri.
Bagai ditembak putus tunggal. (putus tunggal = petir yang sangat keras bunyinya.)
Dialahkan oleh orang yang bodoh.
Bagai diurap dengan daun katang-katang. (katang-katang = Sejenis tumbuh-tumbuhan di tepi laut, getahnya sangat menggatalkan.)
Sangat marah.
Bagai dulang dengan tudung saji.
Sesuai benar.
Bagai duri dalam daging.
Sesuatu hal yang selalu terasa tidak menyenangkan hati.
Bagai emak mandul baru beranak.
Girang yang amat sangat; kasih sayang yang terlalu amat.
Bagai empedu lekat di hati.
Sangat karib (tentang orang bersahabat atau orang berkasih-kasihan).
Bagai enau di dalam belukar, melepaskan pucuk masing-masing.
Tiada semuafakat dalam sesuatu perbincangan.
Bagai gadis jolong menumbuk.
Rajin dan bersungguh-sungguh.
Bagai gagak menggonggong telur.
Perempuan hodoh berpakaian bagus.
Bagai galah di tengah arus.
Menggigil keras; selalu berkeluh-kesah.
Bagai galah dijual. (galah = tombak atau lembing.)
Terlalu miskin; kalah judi.
Bagai gelegar buluh. (gelegar = bunyi bergemuruh.)
Bercakap besar.
Bagai gelombang dua belas.
Kehebatan langkah seseorang pendekar.
Bagai geluk tinggal di air. (geluk = timba daripada tempurung kelapa.)
Orang yang melarat hanya mengharap bantuan orang.
Bagai gembala diberi keris.
Pemberian yang tidak berfaedah.
Bagai getah dibawa ke semak.
Perkara yang semakin kusut dan susah menyelesaikannya.
Bagai gulai lengkitang. (lengkitang = siput.)
Hendak menghilangkan kejahatan dirinya, tetapi kebaikan yang ada padanya pun lenyap pula.
Bagai hantu makan dedak.
Bersungut-sungut dengan tiada tentu sebabnya.
Bagai harimau beranak muda.
Orang perempuan yang terlalu bengis.
Bagai haruan di dalam tuar. (tuar = lukah.)
Tidak tetap keadaannya, karena sakit atau susah.
Bagai ikan lampam di ulak jamban.
Anak-anak yang subur tubuhnya, lekas besar dan tinggi; orang-orang yang mengutip hasil daripada pekerjaan-pekerjaan maksiat.
Bagai ilak bercerai dengan benang. (ilak = ukuran untuk menentukan lebar kain yang akan ditenun.)
Bercerai untuk selama-lamanya.
Bagai jawi belang puntung: didahulukan dia menyepak, dikemudiankan dia menanduk. (belang puntung = merah kehitam-hitaman; jawi = lembu.)
Orang bodoh yang tidak dapat diajak berunding.
Bagai jawi ditarik keluan. (keluan = tali yang dicucukkan pada hidung (lembu dan kerbau).)
Menurut dengan tidak membantah.
Bagai jawi makan, dimamah dulu baru ditelan.
Tiap-tiap perbuatan itu dirundingkan masak-masak sebelum dikerjakan.
Bagai jawi terkurung siang.
Sangat gelisah karena tidak bebas.
Bagai jelongak kerbau rampung.
Orang bodoh yang sombong, tiada sedar dirinya dibodohi orang.
Bagai jempuk kesiangan hari.
Kebingungan; termenung-menung.
Bagai kacang direbus satu.
Melonjak-lonjak kegirangan karena mendapat untung.
Bagai kacang direndang.
Bunyi suara yang tak putus-putus.
Bagai kain menunjukkan corak bangsanya.
Rupa dan gaya seseorang menunjukkan asal usulnya.
Bagai kambing dalam biduk.
Sangat ketakutan.
Bagai kambing dihalau (= diseret) ke air.
Orang yang enggan mengerjakan sesuatu pekerjaan.
Bagai kambing dijunjung.
Jerit pekik orang yang penakut.
Bagai kambing dimandikan pagi.
Orang yang enggan mengerjakan sesuatu pekerjaan.
Bagai kambing harga dua kupang.
Tingkah lakunya seperti anak-anak.
Bagai kambing lepas ke parak. (parak = ladang, kebun.)
Memilih makanan dengan sesuka hati.
Bagai kambing menanduk bukit; tanduk patah bukit tak runtuh.
Pekerjaan yang sia-sia dan mendatangkan kerugian.
Bagai kapak naik cerana. (cerana = tempat sirih.)
Tidak pada tempatnya; kurang cukup alat (= kepandaian) untuk mengerjakan sesuatu.
Bagai kayu lempung, ditebuk kumbang tembus-menembus. (kayu lempung = kayu ringan dan lunak.)
Orang yang lemah, mudah dianiaya oleh orang yang berkuasa.
Bagai keli kena ketuk.
Bersungut-sungut dengan tiada tentu hujung pangkalnya.
Bagai kelip-kelip terbang malam.
Rahasia yang tiada dapat disembunyikan.
Bagai keluang bebar petang. (bebar = terbang.)
Ramai-ramai berkerumun; suka hidup beramai-ramai.
Bagai kerakap tumbuh di batu (= atas batu). (kerakap = Sejenis sirih tetapi tidak dimakan orang.)
Hidup dalam kemelaratan.
Bagai kerbau runcing tanduk.
Orang yang sudah terkenal kejahatannya.
Bagai kinantan hilang taji. (kinantan = putih belaka (ayam, kuda , dan sebagainya).)
Tidak berharga lagi.
Bagai kuau mengigal (= menyesar). (kuau = sejenis burung; menyesar = menguak.)
Kehebatan rupa seseorang.
Bagai kucing dengan panggang (= balur).(balur = dendang.)
Mudah menimbulkan sesuatu hal yang tak baik kalau diperdekatkan.
Bagai kucing dibawakan lidi.
Sangat ketakutan.
Bagai kucing kehilangan anak.
Kehilangan akal; bingung.
Bagai kucing lepas senja.
Sukar dicari; merasa senang.
Bagai kucing menjemput api.
Yang dikehendaki tiada tercapai sedang alat (= syarat) yang digunakan untuk mencapai maksudnya itu pun hilang juga.
Bagai kucing takut akan balur.
Lelaki yang takut kepada perempuan.
Bagai kucing tidur di bantai. (bantai = daging binatang yang disembelih.)
Hidup senang dan mewah.
Bagai langau mengerumuni bangkai.
Orang ramai yang riuh-rendah bunyinya.
Bagai lebah menghimpun madu.
Sangat rajin.
Bagai lepat dengan daun.
Sangat sesuai.
Bagai limau masam sebelah.
Hukuman atau pertimbangan yang kurang adil; berat sebelah.
Bagai lobak di pemerunan, bagai kacang tengah dua bulan. (pemerunan = tempat membakar sampah.)
Anak-anak yang subur tubuhnya, lekas besar dan tinggi.
Bagai lukah, tak penuh air.
Selalu hendak makan saja, tak ada kenyang-kenyangnya.
Bagai melepaskan batuk di tangga.
Membuat sesuatu kerja tetapi tidak sampai selesai.
Bagai melihat asam.
Ingin sekali.
Bagai melihat ulat.
Sangat benci.
Bagai melompati pagar tiga hasta: akan dilompati rendah, akan dilangkahi tinggi.
Sesuatu keadaan yang menyebabkan serba salah.
Bagai melulur bersitungging.
Melakukan sesuatu pekerjaan dengan terpaksa.
Bagai melulus baju sempit, bagai terbuang kesisipan. (kesisipan = kemasukan duri dalam daging.)
Berasa senang karena terlepas daripada kesukaran.
Bagai melulutkan jebat pada kerbau. (melulutkan = menggosok tubuh dengan pelutut; jebat = Sejenis Kasturi)
Pemberian yang tidak sesuai dengan tempatnya.
Bagai memakai baju pinjaman.
Tidak pada tempatnya, sehingga canggung kelihatannya.
Bagai membelah betung.
Pendirian yang berat sebelah.
Bagai memegang buah kepantangan beruk; ditelan mati emak, diludahkan mati bapa.
Menghadapi sesuatu masalah yang sangat sulit; dalam keadaan yang serba salah.
Bagai menambah gelang bini.
Pemberian yang tak kelihatan.
Bagai menampung air dengan limas pesuk. (limas = takir; pesuk = berlubang.)
Tak dapat diberi ajaran atau nasihat.
Bagai mencari kutu di dalam ijuk.
Mengerjakan pekerjaan yang sia-sia.
Bagai mencencang air.
Melakukan pekerjaan yang tidak ada faedahnya.
Bagai mendapat cincin ijuk.
Mendapat barang yang tidak berguna.
Bagai menelan mestika embun.
Mendengar nasihat yang baik.
Bagai mengail kucing hanyut.
Perbuatan yang sia-sia.
Bagai mengangkut batu di bencah. (bencah = paya.)
Menyuruh orang yang enggan melakukan pekerjaan.
Bagai mengatai tunggak (= tunggul).
Memberi nasihat kepada seseorang yang tiada menjawab.
Bagai mengepal pasir kering.
Sangat susah hendak menyatukan orang-orang yang bermacam-macam pikirannya.
Bagai menggelikan induk ayam.
Memberanikan orang penakut.
Bagai menghela rambut dalam tepung: rambut jangan putus, tepung jangan terserak.
Pekerjaan yang sulit yang harus dikerjakan dengan hati-hati sekali.
Bagai menghitung bulu kambing.
Pekerjaan yang sia-sia.
Bagai menjaga permata intan ketika dicanai.
Kasih sayang yang tidak ada taranya.
Bagai menjenguk jerat sial.
Melawat sesuatu tempat tetapi hanya sebentar saja; orang yang gemar berjalan-jalan.
Bagai menumbuk padi hampa.
Perkabaran selalu dilebih-lebihkan daripada keadaan yang sebenarnya.
Bagai menunjukkan ilmu kepada orang menetek.
Melakukan pekerjaan yang tidak ada gunanya.
Bagai menyandang galas tiga. (galas tiga = tiga bungkus dagangan.)
Pekerjaan yang ringan, tetapi sukar melakukannya.
Bagai menyesah kain dapat. (menyesah = memukul.)
Barang pinjaman yang dipakai dengan sekehendak hati saja.
Bagai menyukat anak ayam, masuk empat keluar lima.
Melakukan pekerjaan yang sulit.
Bagai mestika embun .
Mendengar nasihat yang baik.
Bagai murai dicabut ekor.
Perempuan yang suka bercakap banyak.
Bagai nakhoda kasap: hujung hilang, pangkal lesap.
Mengeluarkan belanja dengan tidak tentu dalam sesuatu pekerjaan.
Bagai padi, hendakkan dedak; bagi laki (= suami), hendakkan gendak.
Orang yang suka menolak sesuatu pemberian yang baik, dan gemar berbuat pekerjaan buruk.
Bagai pahat, tidak ditukul tidak makan.
Bekerja hanya kalau diperintah.
Bagai panas mengandung hujan.
Tertawa dalam kesusahan.
Bagai pancang digoncang arus.
Pendirian yang tidak tetap.
Bagai parang buruk, tali sabut tiada tergolok.
Tidak berkuasa melakukan pekerjaan karena terlalu lemah.
Bagai pelita kehabisan minyak.
Tidak berseri-seri lagi.
Bagai perempuan bunting bertemu idamannya.
Gembira karena mendapat barang kesukaannya.
Bagai perempuan membawa perut.
Orang yang buncit perutnya.
Bagai perian pecah. (perian = tabung bambu untuk membawa air.)
Suara yang tidak merdu.
Bagai pintu tak berpasak, perahu tak berkemudi.
Sesuatu yang membahayakan.
Bagai pucuk (enau) dilancarkan (= diluncurkan).
Amat cepat.
Bagai pucuk pisang didiang.
Lemah sekali; tiada berdaya.
Bagai punggur rebah. (punggur = tunggul.)
Jatuhnya orang yang gemuk.
Bagai puyu di air jernih.
Senang hidupnya.
Bagai puyuh laga.
Percakapan yang tak pernah habis.
Bagai rasa batang pisang.
Tubuh seseorang yang terlalu dingin.
Bagai rupa tungkahan. (tungkahan = kayu landasan di dapur.)
Sangat buruk.
Bagai sambau di pintu kandang.
Keadaan yang tidak tetap (sakit atau hidup melarat).
Bagai semut penghimpun melukut.
Orang yang rajin bekerja.
Bagai sepatung mandi.
Sebentar amat.
Bagai serangkak tertimbakan. (serangkak (sirangkak) = ketam kecil.)
Berjalan miring.
Bagai si buta pergi bergajah. (bergajah = menangkap gajah.)
Pekerjaan yang sia-sia.
Bagai si kudung beroleh cincin.
Beroleh keuntungan tetapi tidak dapat merasainya.
Bagai si kudung pergi berbelut. (berbelut = menangkap belut.)
Pekerjaan yang sia-sia.
Bagai si lumpuh hendak merantau.
Ingin melakukan pekerjaan yang mustahil.
Bagai si pekak tertanya-tanya.
Sangat ingin mendengar kabar.
Bagai siamang kurang kayu.
Sangat susah hati karena kekurangan barang-barang keperluan.
Bagai tabut keling: di luar berkilat di dalam berongga.
Baik di luar tetapi jahat hatinya.
Bagai tagar di Pulau Sembilan. (tagar = guruh, guntur.)
Cakap terlalu tinggi dan sombong.
Bagai tanah pelempar balam; kalau mujur tiba di balam, kalau tidak surut ke tanah.
Usaha yang tidak bersungguh-sungguh.
Bagai tanduk bersendi gading.
Tidak sepadan.
Bagai tanduk diberkas.
Sangat susah hendak menyatukan orang-orang yang bermacam-macam pikirannya.
Bagai tekukur mengikut kata.
Anak angkat yang boleh diperlakukan sesuka hati oleh ibu atau bapa angkatnya.
Bagai tembilang bagai penggali; begitu yang hilang begitu pengganti. (tembilang = alat penggali lubang.)
Yang diganti sama dengan yang hilang.
Bagai terung terantuk ke dinding.
Datang berkunjung sebentar saja.
Bagai tikus membaiki labu.
Hendak membetulkan barang yang tiada diketahui.
Bagai timun dendang: di luar merah di dalam pahit.
Mulut manis hati busuk.
Bagai tokak lekat di kening.
Malu yang tak dapat disembunyikan.
Bagai tulisan di atas air.
Memberi nasihat dan ajaran yang sia-sia.
Bagai tuman makan anak.
Berbuat pekerjaan cabul (terutama pada orang yang seharusnya mesti diperlindungi). tuman = Sejenis ikan sungai.
Bagai tunggul dihias.
Rupa yang buruk.
Bagai tuntung jarum dilaga. (tuntung = hujung yang runcing.)
Sesuatu yang tidak tetap (lekas berubah, rosak dan sebagainya).
Bagai tupai bergelut.
Kehebatan rupa seseorang.
Bagai udang bertahi di kepala.
Orang yang sentiasa berhutang.
Bagai ular dengan legundi (= lenggundi di mana legundi = sejenis tumbuhan.).
Sangat terpikat kepada kekasih.
Bagai umang-umang.
Orang yang suka berpakaian bagus tetapi bukan miliknya sendiri. umang-umang = ketam di laut.
Bagai wau putus teraju.
Tinggal berserah kepada nasib saja, daya upaya sudah tiada lagi.
Bagai [kera]] diberi kaca.
Mendapat sesuatu yang tak dapat dipergunakan.
Bagaimana acuan begitulah kuihnya; bagaimana contoh begitulah gubahannya.
Anak menurut baka bapanya; sesuatu itu menurut asalnya.
Bagaimana bunyi gendang, begitulah tarinya.
Bagaimana perintah, begitulah yang diturut; bagaimana aksi begitulah reaksinya.
Bagaimana ditanam, begitulah dituai.
Berbuat jahat dibalas jahat; berbuat baik dibalas baik.
Bagaimana hari takkan hujan, katak betung dalam telaga berteriak selalu.
Selalu pergi bertamu ke rumah orang dengan tiada tentu saat ketikanya, tentulah perbuatan itu mendatangkan syak wasangka pada orang banyak.
Bagaimana kumbang putus tali.
Amat cepat; terlepas daripada sengsara.
Bagaimana menanti arah hanyut.
Mengharap sesuatu yang belum tentu.
Bagaimana pohon tiada akan tumbang dipanah halilintar, baluhan kulit ada di batangnya. (baluhan = batang yang sudah berlubang seperti gendang.)
Orang yang bersahabat dengan orang jahat akhirnya akan ikut terlibat juga dalam kejahatannya.
Bagaimana rupa begitulah bayangnya.
Anak menurut baka bapanya; sesuatu itu menurut asalnya.
Bagaimana tepuk begitulah tarinya.
Bagaimana perintah, begitulah yang diturut; bagaimana aksi begitulah reaksinya.
Bagaimana tidak kumbang jinak terbang beredar, jika tidak karena bunga kembang di taman.
Bagaimana pemuda-pemuda tidak berulang-alik di dekat rumah, jika tidak karena perawan cantik ada di situ.
Bagaimana tidak menggigit telunjuk, melihat air hujan turun keruh.
Hairan melihat orang yang berketurunan baik-baik berkelakuan tidak senonoh.
Bahasa dan bangsa itu tidak dijual beli.
Baik buruk adat kelakuan orang menunjukkan tinggi rendah keturunannya (asal usulnya).
Bahaya tumbuh, sengketa habis.
Perselisihan sesama sendiri hilang apabila berlaku sesuatu malapetaka.
Bahu memikul, hati menyokong.
Dengan sukarela, tidak dengan dipaksa.
Baik berjagung-jagung, sementara padi belum masak.
Sementara belum ada yang lebih baik, maka yang kurang baik pun baiklah dipakai dulu.
Baik membawa resmi ayam betina, supaya tidak ada bencana. (resmi = sifat.)
Lebih baik merendahkan diri, supaya selamat dalam hidup.
Baik membawa resmi padi, daripada membawa resmi lalang.
Tidak sombong; rendah diri.
bajak patah, banteng terambau. (banteng = lembu; terambau = masuk jurang.)
Kemalangan yang datangnya silih berganti.
bajak selalu di tanah yang lembut.
Orang yang lemah selalu menderita.
bajak sudah terdorong ke bencah.
Sudah tak dapat ditarik kembali.
Baji dahan membelah dahan.
Orang yang berbuat baik kepada kita dengan harta kita sendiri.
Bak anjing tersepit.
Ketika menderita merendah diri meminta tolong, terlepas daripada kesusahan, meninggikan diri kembali.
Bak cetus api.
Sangat cepat.
Bak jung berat sebelah. (jung = sejenis kapal.)
Hukuman atau pertimbangan yang kurang adil; berat sebelah.
Bak mandi di air kiambang, pelak lepas gatal pun datang.
Benda yang diperoleh, meskipun berguna, tetapi kemudian mendatangkan kesusahan. (pelak = panas, gerah.)
Bak manik putus tali (= pengarang).
Air mata yang bercucuran.
Bak membelah kepayang muda: dimakan mabuk, dicampak sayang.
Menghadapi sesuatu masalah yang sangat sulit; dalam keadaan yang seba salah.
Bak menanti orang dulu, bak melalah orang kudian. (melalah = mengejar.)
Melakukan sesuatu yang sia-sia.
Bak orang gombang di lebuh. (gombang = elok; lebuh = jalan raya.)
Congkak di tengah jalan tetapi rumah tangganya tidak sempurna.
Bak pinang dianduh, putus tali dia berdiri. (dianduh = ditarik dengan tali.)
Melakukan sesuatu pekerjaan karena dipaksa.
Bak ras kuda pula kukuran.
Orang miskin melakukan dirinya seperti orang kaya.
Bak rasa di liang lahad. (lahad = lubang kubur.)
Dalam kesempitan.
Bak rasa ubi pula gadung. (gadung = ubi hutan)
Orang miskin melakukan dirinya seperti orang kaya.
Bak tengguli ditukar cuka
Pertukaran yang amat bertentangan.
Bakal lesung tak dapat dijadikan balok.
Kesilapan pada mula-mulanya merosakkan pekerjaan seterusnya.
Bakar air hendakkan abu.
Pekerjaan yang sia-sia.
Bakar tak berapi.
Cinta tidak dengan sebenarnya; cinta dengan diam-diam.
Bakar tiada hangus.
Sangat degil.
Bakarlah air ambil abunya.
Pekerjaan yang sia-sia.
Bala lalu dibawa singgah.
Sengaja mencari kesusahan.
Balam dua sesangkar.
Seorang perempuan dicintai oleh dua orang lelaki.
Balik belakang lain bicara.
Mungkir janji.
Baling-baling di atas bukit. (baling-baling = penunjuk angin.)
Pendirian yang tidak tetap.
Bandar terbuka dagangan murah, badan sudah tua.
Sudah terlambat.
Bandot tua makan lalap muda. (bandot = kambing jantan; lalap = ulam, daun muda.)
Lelaki tua beristerikan perempuan muda.
Bangau, bangau, minta aku leher; badak, badak minta aku daging.
Iri hati karena melihat kelebihan seseorang.
Bangkai gajah bolehkah ditutup dengan nyiru ?
Kejahatan yang besar tidak dapat disembunyikan.
Bangkai gajah busuk di hutan hendak ditanam, pekung di kaki sendiri dibiarkan meroyak. (pekung = tokak; meroyak = merambat ke kiri ke kanan.)
Keburukan orang hendak ditutup, keburukan sendiri dibiarkan terdedah.
Bangsa bermuka papan.
Tidak bermalu.
Bangsa teling tipis.
Orang yang lekas marah.
Bangsat tak tahu disukarnya. (bangsat = miskin.)
Orang bodoh yang tak tahu akan kekurangan dirinya.
Banyak air sedikit minyak, minyak juga di atas.
Kedudukan yang tidak sama antara orang biasa dengan orang yang berpangkat.
Banyak habis, sedikit sedang.
Tentang membelanjakan uang.
Banyak makan garam.
Banyak pengalaman.
Banyak tukang di mata dan di mulut, sedikit tukang di tangan.
Pandai berkata-kata saja tetapi tidak pandai mengerjakannya.
Banyak udang banyak garam, banyak orang banyak ragam.
Tiap-tiap orang mempunyai pendapat (kemauan) sendiri-sendiri; makin banyak orang makin banyak pula pendapat dan kemauannya.
Barang di mana pun pantat periuk itu hitam juga.
Di mana pun juga kesalahan tetap kesalahan.
Bau malaikat terhempas.
Harum sekali, terutama tentang perempuan muda yang memakai uangi-uangian.
Baunya setahun pelayaran.
Amat busuk sekali.
Bawa resmi padi, makin berisi makin tunduk.
Makin banyak ilmu atau makin tinggi pangkat makin merendah diri.
Bayan di tangan habis terlepas.
Nasib yang malang.
Bayang-bayang disangka tubuh.
Mengharapkan sesuatu yang belum pasti.
Bayang-bayang sepanjang badan (= tubuh).
Berpadanan dengan tenaga; yang lahir serupa dengan yang batin.
Bayang-bayang tidak sepanjang badan.
Berbuat sesuatu melebihi kemampuan sendiri.
Beban berat senggulung batu. (senggulung = kain (sabut dan sebagainya) yang digulung dan ditaruh di kepala untuk mengganjal barang yang dijunjung.)
Tanggungan yang sangat berat.
Beban sudah di pintu.
Anak gadis yang sudah besar.
Bekas tertarung lagi terkenang, apa pula hubungan nyawa.
Tiada pernah lupa.
Belah dada lihatlah hati.
Berkata benar.
Belakang parang lagi kalau diasah niscaya tajam.
Biar bodoh sekalipun kalau belajar dengan bersungguh-sungguh, niscaya akan menjadi pandai juga.
belalang dapat menuai.
Mendapat keuntungan tidak dengan sengaja.
belalang disangka elang.
Tiada pernah melihat sesuatu yang lebih.
belalang hendak menjadi elang.
Orang bodoh (= hina) hendak berlaku sebagai orang besar (= pandai-pandai).
Belanga kurang, periuk yang melebih-lebih.
Orang yang berhak tidak mengambil berat, sebaliknya orang lain pula yang bersusah payah.
Belayar atas angin. (atas angin = jurusan dari mana angin datang.)
Berbuat sesuatu atas belanja orang lain.
Belayar bernakhoda, berjalan dengan yang tua, berkata dengan yang pandai.
Segala pekerjaan, baik dikerjakan dengan pimpinan orang yang telah berpengalaman.
Belayar ke (di) pulau kapuk.
Tidur.
Belayar mengadang (= menentang, menuju) pulau.
Tiap-tiap perbuatan (pekerjaan) mestilah ada tujuannya.
Belayar sambil memapan, merapat sambil belayar. (memapan = memasang papan untuk dinding, lantai dan sebagainya.)
Sekali melakukan pekerjaan dua tiga maksud tercapai.
Beliung yang besar hayun, kecil makannya.
Besar cakap tetapi hasilnya sedikit.
Belukar sudah menjadi rimba.
Kesalahan yang tidak dapat diperbaiki lagi.
Belum beranak sudah berbesan.
Sudah bersenang-senang sebelum tercapai maksudnya.
Belum bergigi hendak mengunyah.
Hendak melakukan sesuatu tetapi alat syaratnya belum ada.
Belum bergigi sudah hendak menggigit.
Belum berkuasa sudah berangan-angan untuk menindas.
Belum berkilat sudah berkilau, bulan sangkap tiga puluh. (sangkap = genap, cukup.)
Perkara yang sudah terang.
Belum bertaji hendak berkokok.
Belum berilmu sudah hendak menyombong.
Belum betul membilang jari, sudah hendak berkuasa sendiri.
Hendak berlagak seperti orang tua-tua.
Belum diajun sudah tertarung. (ajun = maksud hendak (berbuat, berjalan dan sebagainya).)
Baru hendak memulai sesuatu sudah mendapat kemalangan.
Belum dipanjat asap kemenyan.
Belum kawin.
Belum disuruh sudah pergi, belum dipanggil sudah datang.
Orang yang arif dan rajin.
Belum ditumbuk belumlah bengkak.
Apabila sudah berbudi barulah ada tanda balas.
Belum duduk berlunjur dulu.
Belum memperoleh sesuatu yang dikehendaki, sudah bergirang hati lebih dulu.
Belum lepas tali uri sudah hendak bangkit berdiri.
Hendak berlagak seperti orang tua-tua.
Belum menetas sudah dibilang.
Sudah bersenang-senang sebelum tercapai maksudnya.
Belum sekuku.
Amat sedikit.
Belum tahu di masin garam.
Belum ada pengalaman.
Belum tahu laba rugi.
Belum tahu baik buruk.
Belum tahu lagi, ayam sedang berlaga (= disabung).
Belum ada keputusan.
Belum tegak hendak berlari.
Melakukan sesuatu tidak menurut aturan yang biasa.
Belum tuarang panjang, buah sengkuang sebesar betis. (tuarang = musim kemarau.)
kabar angin yang dilebih-lebihkan.
Belut jatuh ke lumpur.
Senang sekali.
Belut kena ranjau (= getah).
Sepandai-pandai orang, ada kalanya salah juga.
Belut pulang ke lumpur.
Kembali ke asalnya.
Bembam bukan terung.
Menceritakan kelebihan diri sendiri; tidak dapat diperlakukan dengan sesuka hati.
Benang arang orang jangan dipijak.
Jangan mencabuli rumah tangga orang.
Benang bercerai-cerai bukannya kain, dek rapat tetal tenunan kain, jarum pun tidak menelusnya. (tetal = padat; telus = celus.)
Ketangguhan bersatu padu.
Benci akan mencit seekor, rengkiang disunu. (mencit = tikus; rengkiang = lumbung; sunu = bakar.)
Sebab takut akan bahaya yang kecil keuntungan yang besar dibuangkan.
Bengkok batang bengkoklah bayangnya.
Mengikut ajaran yang salah.
Berair kerongkongan. (kerongkongan = pembuluh nafas.)
Mendapat rezeki.
Beraja di hati, bersultan di mata.
Menuruti kehendak hati sendiri.
Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian; bersakit-sakit dulu, bersenang-senang kemudian.
Supaya mendapat kesenangan kelak, harus berani bersusah payah dahulu.
Beralih kain di balik rumah; beralih cakap di balik lidah.
Tidak menepati janji.
Beranak kandung, beranak tiri: ada bersudu daun labu, ada bersudu daun lalang.
Sikap yang tidak adil.
Beranak tiada berbidan.
Mendapat kesusahan (kecelakaan dan sebagainya) karena salahnya sendiri.
Berani hilang tak hilang, berani mati tak mati.
Siapa yang berani akhirnya akan menang juga.
Berani karena benar, takut karena salah.
Bertindak karena berada di pihak yang benar.
Berani menjual berani membeli, berani pegang berani tanggung.
Barang siapa berani menganjurkan, harus berani mengerjakannya.
Berani senduk pengedang, air hangat direnanginya. (senduk pengedang = senduk pencedok air panas dari periuk.)
Berani dengan membuta tuli.
Berapa berat mata memandang, berat juga bahu memikul.
Berapa susah kita melihat kesusahan orang lain, terlebih susah juga orang yang menderita kesusahan itu.
Berapa panjang lunjur, begitulah panjang selimut.
Berbuat sesuatu hendaklah menurut kesanggupan diri sendiri.
Berapalah besar dan dalam laut Kalzum, besar dan dalam lagilah dada manusia.
Hati manusia tak dapat diduga.
Berapalah tajam pisau parang, tajamlah lagi mulut manusia.
Mulut itu lebih tajam daripada senjata.
Berarak ke tebing. (berarak = berjalan.)
Selalu merasa khuatir.
Berarak tidak berlari.
Bekerja bersama-sama yang menggirangkan hati.
Berat beban yang sedikit dek hati sakit.
Kerja yang dipaksa biar berapa ringan sekalipun akan terasa berat juga.
Berat hati beratlah tulang.
Pekerjaan yang dilakukan dengan enggan akan terasalah beratnya.
Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.
Suka duka sama-sama ditanggung.
Berat sepikul, ringan sejinjing.
Baik buruk sama-sama dipikul; bekerja gotong-royong.
Berbalik-balik bagai kuda tercirit.
Perkara yang sudah diputuskan, kemudian ditimbulkan kembali.
Berbaur bagaikan muntah, bercerai bagaikan demam.
Sanak saudara, bila jauh selalu terkenang tetapi bila dekat selalu bertengkar.
Berbaur pangkal perceraian.
Jika terlalu karib mudahlah timbul perselisihan.
Berbelok kucing main daun.
Kehebatan rupa seseorang.
Berbenak ke empu kaki.
Tidak peduli baik atau jahat.
Berbilang dari esa, mengaji dari alif.
Jika mengerjakan sesuatu hendaklah dimulai dari permulaan.
Berbisik kedengaran, berimbau kelampauan.
Jarak yang sangat dekat.
Berbuat di alang tahun, belayar di luar musim. (alang = tengah-tengah; berbuat = maksudnya: turun ke sawah atau ke ladang.)
Mengerjakan sesuatu bukan pada waktunya.
Berbuat kerja seperti Mak Judai.
Selalu membengkalaikan pekerjaannya.
Berbuat kerja seperti yajud wa majud. (yajud wa majud = suku bangsa yang akan membinasakan dunia apabila telah hampir kiamat.)
Seseorang yang bekerja setengah jalan karena malas atau karena kesibukannya.
Berbudi bagai pisang lebat. (berbudi = maksudnya: menggahkan diri.)
Seseorang yang beroleh bencana karena menggahkan dirinya.
Berbukit di balik pendakian.
Kesusahan yang silih berganti.
Berbulu mata melihat.
Sangat benci.
Berbunga sama berbunga: yang lain berbuah, dia tidak.
Mengandung tetapi selalu keguguran.
Berbunyi batu berbunyilah dia.
Tidak dapat berkata-kata karena tembelangnya sudah pecah.
Bercabang bagai lidah biawak.
Tidak dapat dipercayai barang katanya.
Bercabik kulit belumlah tentu, bercabik kain bolehlah.
Belum dapat diharap dengan kerja yang susah-susah.
Bercakap memandang-mandang, silap lidah jiwa hilang.
Memperkatakan sesuatu hal orang lain hendaklah berhati-hati.
Bercampur dengan orang pemaling, sekurang-kurangnya jadi pencecak. (cecak = copet.)
Bercampur dengan orang jahat, lama-kelamaan kita akan menjadi jahat pula.
Bercermin di air keruh.
Mencontohi perbuatan yang kurang baik.
Bercintakan geliga di mulut naga.
Mengharapkan sesuatu yang mustahil.
Berdenah tidak, terpeluk sarang tabuhan.
Mendapat kesusahan (kecelakaan) karena takut akan sesuatu yang sebenarnya tidak patut ditakutkan. tabuhan = tebuan.
Berdengking si tua memekik, mustahil akan menggigit jema. (si tua = harimau; jema = orang.)
Orang yang terlalu marah serta berteriak-teriak, biasanya tidak sampai mempergunakan tangan akan memukul.
Berdiang di abu dingin.
Tidak memperolehi pertolongan daripada saudara sendiri, ketika dalam kesusahan, karena ia juga dalam keadaan yang serupa; tidak mendapat suguhan waktu bertamu di rumah orang lain.
Berdikit-dikit, lama-lama menjadi bukit.
Cermat.
Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah.
Sama setaraf.
Berdua mendatangkan perbantahan.
Tidak mungkin timbul perselisihan kalau hanya seorang diri.
Berdua terkunci, bertiga terbuka.
Rahasia hanya dapat disimpan di antara dua orang saja.
Berebut temiang hanyut, tangan luka, temiang tak dapat. (temiang = sejenis buluh tipis.)
Berkelahi merebutkan sesuatu barang: barangannya tak dapat, badan luka-luka.
Berek-berek laga siang, malam sekelelapan. (berek-berek = burung yang suka berkawan-berkawan; sekelelapan = tidur bersama-sama.)
Dua golongan yang lahirnya selalu berselisih tetapi batinnya semuafakat.
Beremas kemas, berpadi menjadi.
Orang yang mampu (= kaya, berilmu) segala maksudnya mudah tercapai.
Berendam di tempayan pekasam.
Duduk berleka di rumah perempuan jahat.
Berendam sesayak air, berpaut sejengkal tali.
Hidup dalam kemelaratan.
Berenyai bak hujan pagi.
Bekerja atau bercakap lambat-lambat.
Bergalah ke hilir tertawa buaya, bersuluh di bulan terang tertawa harimau.
Membuat pekerjaan yang sia-sia.
Bergantung (di) rambut sehelai.
Dalam keadaan yang sangat berbahaya.
Bergantung pada akar lapuk.
Berharapan kepada orang yang tak berkuasa.
Bergantung pada tali rapuh.
Menyandarkan hidupnya pada orang (jabatan, pekerjaan dan sebagainya) yang kurang kuat atau tidak tetap.
Bergantung tidak bertali.
Hal seorang yang menjadi gundik yang tidak sah atau yang telah ditinggalkan suaminya tetapi belum ditalak.
Bergedang air orang.
Pekerjaan yang memberi untung kepada orang lain.
Bergelanggang di mata orang banyak.
Terang atau nyata sekali.
Bergurindam di tengah rimba.
Menunjukkan kepandaian di depan orang yang bodoh.
Berguru kepalang ajar, bagai bunga kembang tak jadi.
Pelajaran yang tiada sempurna dituntut, tiadalah akan mendatangkan faedah.
Berhadap kasih mesra, balik belakang lain bicara.
Tidak teguh janji.
Berhakim kepada beruk.
Minta pertimbangan (keadilan dan sebagainya) kepada orang yang tamak, niscaya akan merugi.
Berhambakan tangan, bersaksikan mata, berhakimkan hati.
Berfikirlah dulu dengan masak-masak sebelum membuat sesuatu perkara.
Berhampar lapik, berlicin daun.
Bermuafakat mencari penyelesaian yang baik dengan setulus-tulus hati, tidak ada menyembunyikan perasaan-perasaan yang buruk.
Berhanyut ke hilir mengepit kemudi sajalah.
Sesuatu pekerjaan yang dikerjakan oleh orang pandai (= rajin) maka tidaklah payah diawasi terlalu sangat.
Berharga di atas rupa, bercupak di atas tumbuh. (di atas rupa = melihat rupa; bercupak di atas tumbuh = adat diisi apabila sesuatu mengenai adat itu terjadi.)
Tiap-tiap sesuatu hendaklah pada tempatnya.
Berhati baja, berurat kawat.
Tabah dan keras hati.
Berhubung karena hendak panjang, berkampuh karena hendak lebar.
Perhubungan kekeluargaan melalui perkawinan.
Beriak tanda tak dalam, bergoncang tanda tak penuh.
Orang yang sombong, besar cakap tidak berisi.
Berinduk semang kepada janda, bagai dokoh tali anjing.
Orang yang masih membuat perhubungan dengan jandanya ialah suatu perbuatan yang dicerca oleh orang ramai. (dokoh = perhiasan leher; induk semang = perempuan yang punya rumah tempat orang menumpang; orang yang memberi pekerjaan.)
Berjalan dari pintu belakang.
Tidak jujur, tidak menurut aturan yang sah.
Berjalan jauh banyak dilihat.
Banyak pengalaman kalau bepergian ke mana-mana.
Berjalan peliharakan kaki, berkata peliharakan lidah.
Hendaklah selalu beingat-ingat dalam melakukan sesuatu pekerjaan.
Berjalan sampai ke batas, belayar sampai ke pulau.
Sesuatu usaha hendaklah dikerjakan sampai selesai.
Berjanjang naik, bertangga turun.
Menurut derajat (darjat) dan kedudukan masing-masing; menurut aturan yang lazim.
Berjarak serasa hilang, bercerai serasa mati.
Sangat rindu; sangat berkasih-kasihan.
Berjual pisang kepada monyet.
Berjual dengan memberi hutang.
Berjumpa dengan putih, terlesi sangat.
Tidak berasa puas dengan sesuatu yang telah diperoleh. (lesi (lesih) = terlalu putih.)
Berkain tak cukup sebelit pinggang.
Kemiskinan yang amat sangat.
Berkandilkan bulan.
Tidak mempunyai rumah tempat tinggal.
Berkata siang melihat-lihat, berkata malam mendengar-dengar.
Jika hendak membicarakan sesuatu, harus berhati-hati jangan sampai menyinggung perasaan orang.
Berkata-kata dengan lutut.
Berkata-kata dengan orang yang bodoh.
Berkaul kepada (= ke tempat) keramat.
Meminta sesuatu hendaklah pada tempatnya.
Berkayuh sambil bertimba.
Sekali melakukan pekerjaan dua tiga maksud tercapai.
Berkayuh sampan bocor.
Kehidupan yang sangat melarat.
Berkelahi dalam kepuk.
Sesuatu perkara yang sulit diselesaikan (susah dan sukar).
Berkelahi dengan orang tak berambut.
Berselisih dengan orang yang kurang sempurna akalnya.
Berkelahi di dalam mimpi.
Berlelah-lelah dengan sia-sia saja.
Berkelahi di ekor alahan.
Memperbantahkan sesuatu yang tidak penting atau yang sudah diselesaikan. (alahan = bekas alur sungai, bendungan.)
Berkelahi di hujung batang, berbaik di pangkal batang.
Orang berkelahi atau bertengkar yang akhirnya berbaik kembali.
Berkelahi dulu pendapatan, berkelahi kemudian kerugian.
Fikirkan masak-masak, sebelum berbuat sesuatu supaya jangan menyesal.
Berkelahi seperti labah-labah dalam gelas.
Perkelahian yang sangat hebat di tempat yang sangat sempit.
Berkemudi di haluan, bergilir ke buritan.
Orang yang menurut nasihat atau perintah anaknya (isterinya, orang sebawahannya dan sebagainya).
Berkepanjangan bagai agam.
Perbuatan atau perkataan yang tidak ada hujungnya.
Berkeras tidak berkeris.
Bertindak keras tetapi tidak mempunyai kekuatan untuk mempertahankan dirinya.
Berkerbau seperempat ekor, berkandang sebagai orang.
Orang miskin yang berkelakuan seperti orang kaya.
Berkering air liur.
Nasihat yang sia-sia.
Berketak ayam di darat, bersenyap-senyap mutiara di laut.
Orang bodoh suka menunjukkan kerja yang dibuatnya, tetapi orang yang bijaksana membuat kerja hanya dengan diam-diam saja.
Berketak ayam mandul; orang berketak ia berketak, orang bertelur ia tidak.
Orang yang bernasib malang, walau bagaimanapun meniru orang lain, tetapi nasibnya tetap tidak berubah.
Berketak ayam, tahu akan bertelur atau tidak.
Orang yang bijaksana itu, apabila mendengar orang bercakap, tahu ia benar atau bohong, berilmu atau tidak.
Berketak dulu sebelum bertelur.
Bersuka-ria dan bermegah-megah karena mengharapkan keuntungan daripada sesuatu pekerjaan yang belum dilakukan.
Berketuk (= berkotek) di luar sangkar, bertanam di luar pagar.
Memajukan keterangan dan sebagainya sesudah perkara diputuskan.
Berketuk ayam dalam telur.
Anak-anak atau orang bodoh yang turut merundingkan sesuatu perkara yang tidak diketahuinya.
Berkokok di luar gelanggang, bila ke tengah menyusup di bawah kelengkang.
Bercakap besar di belakang tetapi bila berhadapan mengaku kalah.
Berkuah air mata.
Selalu menderita susah.
Berkuah sama menghirup, bersambal sama mencolek.
Persahabatan yang sangat karib.
Berkuak pedang, berbelah buluh.
Membahagi-bahagikan harta pencarian karena bercerai atau putus persaudaraan.
Berkubu sebelum alah.
Berjaga-jaga sebelum mendapat kesusahan.
Berlaki anak semang. (anak semang = orang gajian.)
Perempuan yang buruk kelakuannya.
Berlidah di lidah orang.
Hanya menurut apa yang dikatakan orang.
Berlindung di balik telunjuk.
Rahasia yang tak dapat disembunyikan.
Berlurah di balik pendakian.
Ada sesuatu maksud yang tersembunyi di sebalik sesuatu perbuatan, perkataan dan sebagainya.
Bermain air basah, bermain api letur, bermain pisau luka.
Tiap-tiap perbuatan atau pekerjaan akan meninggalkan akibatnya.
Bermain-main dengan kerbau, dilontarnya muka dengan ekornya.
Berkawan dengan orang bodoh, tentu menanggung kerugian.
Bermata mata kayu, bertelinga telinga kuali.
Tiada menaruh perhatian kepada apa yang dilihat dan didengar.
Bermayang-mayang menjadi mumbang.
Selalu mengandung tetapi tidak pernah mendapat anak karena keguguran atau anaknya itu mati.
Bermimpi mendapat emas, takkan membuat pura; bermimpi mendapat padi, takkan membuat lumbung.
Menasihati supaya membuat perdamaian dalam sesuatu perselisihan, pandanglah perselisihan itu seperti mimpi yang tak dapat diterima sebagai suatu kenyataan.
Berminyak biar lecah (= licin).
Janganlah kepalang tanggung dalam melakukan sesuatu pekerjaan.
Berminyak tak licin.
Setengah-setengah tidak sampai selesai.
Bermulut di mulut orang.
Hanya menurut apa yang dikatakan orang.
Bernafas keluar badan.
Lebih percaya kepada pendapat orang lain daripada pendapatnya sendiri.
Berniaga buluh kasap, hujung hilang pangkal lesap.
Membuat pekerjaan yang sia-sia.
Berniaga di hujung lidah.
Orang pandai yang tak jujur, suka menipu dan sebagainya.
Beroja berpegang ekor. (beroja = menggalaki.)
Kepercayaan yang setengah hati.
Beroleh (= mendapat) hidung panjang.
Mendapat malu.
Beroleh lumpur di tempat yang kering.
Mendapat kesusahan yang tidak tersangka-sangka.
Beroleh sehasta hendak sedepa.
Diberi sedikit lalu hendak minta banyak.
Berpatah arang berkerat rotan.
Memutukan tali persahabatan (persaudaraan).
Berpaut sehasta tali.
Tidak dapat berbuat sekehendak hati.
Berpaut tidak bertali.
Belum putus perkaranya; belum diberi surat cerai (tentang perempuan yang minta cerai).
Berpesan berturuti, harap ada percaya tidak.
Mempercayai sesuatu kepada seseorang tetapi tidak dengan sepenuh hati.
Berpindah ke balik papan.
Meninggal dunia.
Berpusing-pusing seperti baling-baling.
Kehidupan yang tiada tetap.
Berputik dulu baru berbunga, buahnya jarang dimakan beruk (= monyet).
Perempuan yang hamil sebelum kawin.
Bersahabat dengan juara, selilit benang bulang tahu juga.
Apabila jahat, lama-kelamaan kita akan menjadi jahat pula. (benang bulang = benang pengikat taji ke kaki ayam yang akan disabung.)
Bersaksi ke lutut.
Minta pertimbangan kepada orang yang bodoh; sahabat atau sanak saudara dijadikan saksi.
Bersalai tidak berapi. (salai = dipanaskan atau dikeringkan.)
Perempuan yang belum bersuami, tetapi sudah mengandung.
Bersandar di batang rengas, gatallah badan.
Orang yang berhampiran dengan raja atau orang besar yang zalim, akhirnya ia sendiri mendapat kesusahan.
Bersandar dilemang hangat.
Berlindung kepada orang yang zalim, binasalah akhirnya.
Bersarak serasa hilang, bercerai serasa mati.
Sangat rindu; sangat berkasih-kasihan. (sarak = pisah.)
Bersawah seperempat piring, ke sawah sama dengan orang.
Orang miskin yang berkelakuan seperti orang kaya.
Bersawah sepiring tidak, 'kan tempat sepasin bertanya.
Kemiskinan yang amat sangat. (sepasin = binatang yang akan menjadi sepatung.)
Berseleleran bagai getah di lalang.
Percakapan atau pembicaraan yang tidak keruan.
Berselimut kain cukin; ditutup kepala kaki terbuka, ditutup kaki kepala terdedah.
Serba tak cukup (miskin). (cukin = kain basahan atau kain kecil penutup dada waktu makan.)
Peribahasa Indonesia Abjad
Cacing hendak menjadi naga.
Orang kecil hendak menyama-nyamai orang besar-besar.
Cacing menelan naga.
Anak orang bangsawan diperisteri oleh orang kebanyakan; orang yang berkuasa dapat dialahkan oleh orang yang lemah.
Cacing menjadi ular naga.
Orang hina menjadi orang mulia.
Cakak sudah, silat teringat. (cakak = kelahi).
Perkara sudah selesai, barulah terdengar keterangan atau sungutan.
Cakap berdegar-degar, tahi tersangkut di gelegar.
Cakapnya saja yang besar tetapi tidak ada satu pun pekerjaan yang dilakukan olehnya.
Cakap berlauk-lauk makan dengan sambal lada.
Cakapnya seperti orang kaya, padahal miskin.
Cakapan sejengkel dibawa sehasta.
Berlebih-lebihan daripada hal yang sebenarnya.
Calak-calak ganti asah, menanti tukang belum datang.
Dipakai untuk sementara waktu saja, sementara belum ada yang lebih baik;
Campak baju nampak kurap seperti anak kacang hantu.
Orang-orang muda yang tiada memelihara kehormatan dirinya ataupun kehormatan orang lain di jalan-jalan raya.
Campak baju nampak kurap.
Mendedahkan keburukan diri sendiri.
Campak bunga dibalas dengan campak tahi.
Kebaikan dibalas dengan kejahatan.
Canggung seperti antan dicungkilkan duri (= gigi).
Melakukan sesuatu pekerjaan yang bukan sepatutnya.
Cari umbut kena buku.
Mencari yang baik, mendapat yang buruk.
Carik-carik bulu ayam, lama-lama bercantum juga.
Perselisihan sesama keluarga itu akhirnya akan berbaik kembali.
Cekarau besar liang. (cekarau= sejenis tumbuhan di air yang besar lubang batangnya).
Besar bualannya dan suka membuka Rahasia orang.
Cekel berhabis, lapuk berteduh. (cekel = kikir, pelit).
Biarpun kikir namun harta akan habis juga akhirnya atau hilang percuma saja.
Cekur jerangau ada lagi di ubun-ubun.
Belum dewasa sudah hendak melawan orang tua; belum ada pengalaman.
Celaka ayam, padi masak makan ke hutan.
Nasib yang malang.
Celaka tiga belas.
Malang sekali.
Cembul dengan tutupnya.
Sesuai benar.
Cempedak berbuah nangka
Memperoleh lebih dari yang diharapkan
Cemperling nak jadi bayu. (bayu = sejenis burung asmara dalam dongengan).
Orang kecil hendak menyama-nyamai orang besar-besar.
Cencang air tidak putus, pancung abu tak berbekas.
Perselisihan sesama keluarga itu akhirnya akan berbaik kembali.
Cencang dua segeragai. (geragai = pengait untuk menangkap buaya).
Sekali jalan, dua tiga pekerjaan selesai.
Cencang putus, biang tembuk.
Putusan yang mengikat.
Cencang terdadik jadi ukir. (terdadek = tersesat).
Kesalahan yang tiada disengajakan, tetapi mendatangkan kebaikan.
Cencaru makan petang.
Pekerjaan yang lambat mendatangkan hasil yang baik.
Cengkeling bagai ular dipukul (= dipalu).
Geliang-geliut karena kesakitan.
Cepat kaki ringan tangan.
Rajin dan giat.
Cepat tangan terjembakan, cepat kaki terlangkahkan, cepat mulut terkatakan.
Jika kurang fikir atau kurang hemat dalam sesuatu perbuatan, maka tangan dan kaki serta mulut dapat menimbulkan kesusahan.
Cerdik bagai ekor kerbau.
Melakukan sesuatu pekerjaan yang merugikan diri sendiri.
Cerdik elang, bingung sikikih; lamun murai terkecoh juga. (sikkih = sejenis enggang, kecil sedikit).
Biarpun cerdik atau bodoh orang besar-besar itu tetapi orang kecil-kecil juga yang selalu menanggung rugi.
Cerdik perempuan meleburkan, saudagar muda menghutangkan.
Menuruti orang yang belum panjang pikirannya itu acap kali mendatangkan kesusahan.
Cermat masa banyak, jimat masa sedikit.
Selalu berhati-hati dalam membelanjakan (menggunakan) sesuatu.
Cik puan melangkah ular tak lepas.
Gerak-geri perempuan yang lemah lembut.
Cincin emas takkan tampan bermata kaca.
Gadis yang elok dan hartawan takkan sejodoh dengan orang yang miskin dan hodoh.
Cium tapak tangan, berbaukah atau tidak?
Lihat diri sendiri terlebih dulu sebelum mencela orang lain.
coba-coba menanam mumbang, jika tumbuhan sunting (= suri, turus) negeri.
Kerjakan terus walaupun kurang berharga, barangkali ada juga hasilnya kelak.
Condong ditumpil, lemah dianduh. (ditumpil = ditunjang).
Memberi pertolongan (keuangan, fikiran dan sebagainya) kepada orang-orang yang di dalam kesusahan.
Condong puar ke uratnya, condong manusia kepada bangsanya. (puar = tumbuhan hutan).
Tiap-tiap orang lebih suka kepada keluarganya sendiri daripada kepada orang lain.
Condong yang akan menimpa.
Perbuatan yang sangat membahayakan.
Condong yang akan menongkat, rebah yang akan menegakkan.
Pemimpin yang akan membantu atau menjaga rakyatnya jika ada kesusahan yang menimpa rakyatnya itu.
Corak kain mengikut kehendak penenunnya.
Undang-undang sesebuah negeri itu menurut keadaan pemerintahnya; pengetahuan murid menurut ajaran gurunya.
Cubit paha kanan, paha kiri pun merasa juga.
Jika seseorang itu menyusahkan kaum keluarganya sendiri maka ia pun akan merasa susah juga.
Cubit paha sendiri dulu, baru cubit paha orang lain.
Pandang pada diri sendiri dulu, sebelum memandang pada orang lain.
Cupak berkeesaan.
Keadilan hukum baru bisa (boleh) diperoleh apabila sudah cukup keterangan atau pemeriksaannya.
Cupak sudah tertegak, suri sudah terkembang (=terentang).
Telah lama adat berdiri tentang tiap-tiap pekerjaan.
Cupak tegak yang diisi.
Aturan yang masih tetap berlakulah yang diturut.
 Peribahasa Indonesia Abjad D
Dada manusia tidak dapat diselam.
Pengetahuan (fikiran) seseorang itu tidak dapat diduga.
Dagangan bersambut yang dijualnya. (dagang bersambut = barang amanah).
Cerita daripada orang lain yang diceritakannya.
Dahan pembaji batang.
Menggunakan harta benda tuannya.
Dalam berselam, dangkal berjingkat.
Penghasilan yang sedikit itu dipada-padakan.
Dalam dua tengah tiga.
Tidak jujur.
Dalam laut boleh diduga, dalam hati siapa tahu.
Pengetahuan (fikiran) seseorang itu tidak dapat diduga.
Dalam menunduk dia menyonggeng. (songgeng (menyonggeng) = tonggeng).
Lahirnya dia menerima dengan baik, tetapi hatinya sendiri membantah.
Dalam menyelam, cetek bertimba.
Penghasilan yang sedikit itu dipada-padakan.
Dalam rumah membuat rumah.
Mencari keuntungan atas ongkos orang lain.
Dalam sudah keajukan, dangkal sudah keseberangan. (ajuk = duga).
Telah diketahui benar-benar tujuan atau maksud seseorang.
Dapat dihitung (= dibilang) dengan jari.
Sangat sedikit.
Dapat durian runtuh.
Mendapat keuntungan dengan tidak bersusah-payah.
Dapat harta karun.
Mendapat keuntungan dengan tidak bersusah-payah.
Dapat harta timbul.
Mendapat keuntungan dengan tidak bersusah-payah.
Dapat kijang teruit.
Mendapat keuntungan dengan tidak bersusah-payah.
Dapat tebu rebah.
Mendapat keuntungan dengan tidak bersusah-payah.
Dapur tidak berasap.
Terlalu miskin.
Darah setampuk pinang.
Belum berpengalaman.
Dari ajung (= jung) turun ke sampan.
Diturunkan pangkat.
Dari jauh diangkat telunjuk, kalau dekat diangkat mata.
Umpat dan caci karena kelakuan yang tidak senonoh.
Dari lecah, lari ke duri.
Menghindarkan diri daripada kesukaran yang kecil, jatuh dalam kesukaran yang lebih besar.
Dari semak ke belukar.
Menceraikan isteri yang jahat, kemudian kawin dengan [perempuan]] yang lebih jahat lagi;
Dari telaga yang jernih, tak akan mengalir air yang keruh.
Daripada sifat yang mulia, tak akan lahir budi bahasa yang kasar.
Dari telaga yang keruh, tak akan mengalir air yang jernih.
Daripada tabiat yang jahat tak akan lahir budi bahasa yang baik.
Daripada cempedak baiklah nangka, daripada tidak baiklah ada.
Sedikit pun cukuplah daripada tiada langsung.
Daripada hidup bercermin bangkai, lebih baik mati berkalang tanah. (kalang = galang.)
Lebih baik mati daripada menanggung malu.
Daripada hidup bergelumang (= berlumur) tahi, baik mati bertimbun bunga.
Lebih baik mati daripada menanggung malu.
Daripada segenggam jadi segantang.
Bernasib baik.
Datang nampak muka, pergi nampak belakang.
Datang dengan baik, pergi pun harus dengan baik pula; orang yang datang atau pergi hendaklah memberitahu.
Datang seperti ribut, pergi seperti semut.
Tentang penyakit.
Datang tak berjemput, pulang tak berhantar.
Tetamu yang tidak penting.
Datang tampak muka, pulang tampak punggung.
Datang dengan baik, pergi pun harus dengan baik pula; orang yang datang atau pergi hendaklah memberitahu.
Datang tiada dijemput, dihalau dia berpaut, salah hemat kita diangkut.
Tentang penyakit.
Datar bak lantai papan, licin bak dinding cermin.
Keputusan yang sangat adil.
Daun 'lah melayang, buah jatuh ke perdu juga.
Tiada sama kasih kepada anak sendiri dengan kasih kepada anak saudara.
Daun dapat dilayangkan, getah jatuh ke perdu juga.
Tiada sama kasih kepada anak sendiri dengan kasih kepada anak saudara.
Daun keladi dimandikan.
Memberi nasihat dan ajaran yang sia-sia.
Daun mengenalkan pohonnya.
Daripada kelakuan (perkataan) dapat dikenal asal usulnya.
Daun nipah dikatakan daun labu.
Kalau segan bertanya tentulah timbul salah faham.
Daunnya jatuh melayang, buahnya jatuh ke pangkal juga.
Orang yang tiada berbudi pekerti jika banyak pengetahuannya sekalipun, akan ketahuan juga; yang berguna tinggal yang tak berguna terbuang.
Degar-degar merapati. (degar-degar = bunyi kayu dipukul).
Perselisihan antara kaum keluarga atau suami isteri yang makin merapatkan perhubungan.
Dek sukar berkampuh ijuk, nan adat diturut juga.
Adat yang tak boleh ditinggalkan, walaupun hidup melarat.
Dekat dapat ditunjal, jauh dapat ditunjuk.
Perkataan atau pengakuan yang dapat dibuktikan kebenarannya.
Dekat tak tercapai, jauh tak berantara.
Sesuatu yang kita inginkan tetapi tiada berdaya untuk mengambilnya.
Dendang menggonggong telur.
[Perempuan]] hodoh berpakaian bagus.
Dengan kartu terbuka.
Dengan terus terang.
Dengar cakap enggang, makan buah beluluk; dengar cakap orang, terjun masuk lubuk.
Sesuatu pekerjaan itu hendaklah difikirkan sendiri masak-masak sebelum dikerjakan dan jangan sekali-kali mendengar cakap orang.
Dengarkan cerita burung, anak dipangku dilepaskan.
karena mendengarkan manis tutur kata orang, pekerjaan sendiri disia-siakan.
Deras datang dalam kena.
Pekerjaan yang terburu-buru itu kelak akan mendatangkan kerugian.
Deras seperti anak panah.
Terlalu cepat.
Destar habis, kopiah luluh.
Menderita kemalangan terus-menerus.
Di bawah ketiak orang.
Di bawah kekuasaan orang.
Di bawah lancung nan tiris. (dibawah lacung = di bawah barang yang palsu).
Seseorang yang mendapat kehinaan, merasa dirinya rendah sekali.
Di bawah lantai nan tiris.
Seseorang yang mendapat kehinaan, merasa dirinya rendah sekali.
Di belakang ia menendang kita, bila di depan ia mengeting kita, jika di tengah ia berpusing ligat pula.
Menghadapi seseorang yang kita kasihi, yang menyebabkan kita menjadi serba-salah.
Di hulu keruh di hilir pun tentu keruh juga.
Kalau asalnya tidak baik maka kesudahannya pun tentu tidak baik juga.
Di laut angkatan, di darat kerapatan.
Kekuatan di laut bergantung kepada angkatan perang, kekuatan di darat bergantung kepada persatuan.
Di luar bagai madu, di dalam bagai empedu.
Lahirnya baik, batinnya jahat.
Di luar berkilat di dalam berongga.
Lahirnya baik, batinnya jahat.
Di luar merah di dalam pahit.
Lahirnya baik, batinnya jahat.
Di lurah air yang besar, di bukit orang yang hanyut.
Orang yang tiada bersalah menerima hukuman.
Di lurah maka hendak angin, di bukit maka hendak air.
Berkehendakkan sesuatu tidak pada tempatnya.
Di mana api padam, di situlah (= di sanalah) puntung tercampak; di mana periuk pecah, di situlah tembikar tinggal.
Di mana mati di situlah dikuburkan.
Di mana batang terguling, di situ cendawan tumbuh.
Di mana timbul perkara di situlah diselesaikan.
Di mana buah masak, di situ burung banyak tampil.
Di mana banyak kesenangan, di situ pula banyak orang datang.
Di mana bumi (= tanah) dipijak, di sana (= di situ) langit dijunjung.
Hendaklah menurut adat dan aturan tempat yang kita diami.
Di mana bunga kembang, di situ kumbang banyak.
Di mana ada gadis, di situ ada anak-anak muda.
Di mana kapak jatuh, di situ baji makan.
Di mana timbul perkara di situlah diselesaikan.
Di mana kayu bengkok, di sanalah musang meniti.
Tempat yang tidak dijaga baik-baik, di situlah pencuri datang; siapa lengah akan mendapat bencana; orang yang bodoh mudah kena tipu.
Di mana kelintung berbunyi, di situ kerbau tinggal diam.
Di mana perintah yang baik, di situ rakyat hidup rukun dan damai; negeri yang aman, ramai penduduknya.
Di mana lalang habis, di situ api padam.
Di mana mati di situlah dikuburkan.
Di mana makan di situ berak.
Berbuat jahat di tempat mencari rezeki.
Di mana ranting dipatah, di situ air disauk.
Hendaklah menurut adat dan aturan tempat yang kita diami.
Di mana tembilang terentak, di situ cendawan tumbuh.
Di mana timbul perkara di situlah diselesaikan.
Di mana tempat kutu hendak makan kalau tidak di atas kepala.
Menghabiskan harta ibu bapa atau harta majikan.
Di mana tumbuh, di situ disiang.
Jika terjadi suatu perkara atau perselisihan, hendaklah diperiksa dan diselesaikan di situ juga.
Di manakah berteras kayu mahang.
Sesuatu yang mustahil tak usah diharapkan sangat.
Di mudik sebulakan, di hilir semuara. (bulakan = pancaran air yang menjadi air tergenang).
Persatuan yang kukuh.
Di padang orang berlari-lari; di padang sendiri berjengket-jengket.
Orang yang hanya suka makan atau menerima hak orang lain, tetapi hak sendiri disimpan atau disembunyikan.
Di reban sendiri melegas, di reban orang meromok.
Berani di rumah sendiri, tetapi takut di tempat orang.
Di rumah sendiri dapur tak berabu, ke rumah teman pergi berpasak seribu.
Suka bertandang dan makan di rumah orang.
Di waktu garuda alah oleh ular.
Kiasan kepada waktu yang telah lalu; zaman dulu kala.
Dialas bagai memengat. (memengat = memasak pengat).
Berkata dengan cukup alasan.
Diam di laut, masin tidak; diam di bandar tak meniru.
Tidak menghiraukan segala perubahan terutama perubahan-perubahan yang baik.
Diam penggali berkarat.
Ilmu yang disimpan saja lama-kelamaan akan hilang.
Diam-diam lepu. (lepu = ikan laut "lionfish").
Musuh yang pendiam jangan dipermudah-mudahkan.
Diam-diam ubi berisi, diam besi (= penggali) berkarat.
Pendiam tetapi berfikir atau banyak pengetahuan; bekerja dengan diam-diam.
Dian sebatang dinyalakan hujung pangkalnya, teraba-teraba sudahnya.
Orang yang membazir tak dapat tiada akan menghadapi kesusahan.
Dianjak layu, dibubut (= dianggur) mati.
Keputusan yang tidak dapat diubah-ubah lagi.
Dianjung seperti payung, diambak seperti kasur.
Orang yang sangat dimuliakan.
Diapit tidak bersanggit, ditambat tidak bertali. (sanggit = geser, gosok.)
[Perempuan]] yang tidak dipelihara oleh suaminya, tapi tidak pula diceraikannya; hidup di luar nikah.
Diasak (= pindah) layu, dicabut mati.
Keputusan yang tidak dapat diubah-ubah lagi.
Dibakar tak hangus, direndam tak basah.
Sangat berkuasa; tak mudah dikalahkan.
Dibalik-balik bagai memanggang.
Difikirkan masak-masak.
Dibalun sebalun kuku, dibuka selebar alam. 9balun = gulung).
Alam rohani yang tak berbatas.
Dibenarkan duduk di serambi, hendak bermaharajalela di tengah rumah.
Diberi sedikit, lalu hendak minta banyak.
Diberi bahu, hendak kepala.
Perihal anak yang dimanjakan.
Diberi berkuku hendak mencengkam.
Diberi kekuasaan sedikit lalu hendak berbuat sesuka hati.
Diberi berpadang luas.
Diberi kebebasan sepenuh-penuhnya.
Diberi bertali panjang.
Diberi kebebasan sepenuh-penuhnya
Diberi betis hendak paha.
Diberi sedikit, lalu hendak minta banyak.
Diberi sejengkal hendak sehasta, diberi sehasta hendak sedepa.
Diberi sedikit, lalu hendak minta banyak.
Dibilang genap, dipapar ganjil. (dipapar = dibentang.)
Lahirnya saja untung, tetapi yang sebenarnya rugi.
Dibuang yang keruh, diambil yang jernihnya.
Yang buruk dibuang, yang baik diambil (dipakai).
Dibuat karena Allah, menjadi murka Allah.
Dilakukan dengan maksud baik, tetapi diterima orang dengan curiga.
Dicari cempedak di bawah kerambil. (kerambi = kelapa).
Mencari tidak pada tempatnya.
Dicecah orang bagai garam.
[Perempuan]] yang baru saja kawin lalu bercerai.
Dicocok orang hidungnya.
Menurut saja.
Dicukur-cukur rambut, tumbuh juga semula.
Tabiat jahat lambat-laun akan berbalik semula.
Didenda dengan emas yang habis, dipancung dengan pedang yang hilang.
Didenda atau dihukum hanya dengan syaratnya saja karena mencari perdamaian.
Didengar ada, dipakai tidak.
Nasihat yang sia-sia.
Didukung disangka orang sakit, kiranya orang kekenyangan.
Menolong orang tidak pada tempatnya.
Didului bak melanting babi. (melanting = melempar).
Mendului membuat sesuatu pekerjaan itu kadang-kadang berhasil baik.
Dielakkan harimau, gajah tentu dengan londarnya; dielakkan untung, tak tentu londarnya. (londar = denai.)
Nasib yang tidak dapat ditentukan.
Dientak (hentak) alu luncung. (luncung = lancip tetapi tidak runcing di hujungnya.)
Dialahkan oleh orang yang bodoh.
Dientak (hentak) tak masuk, diumpil tak bergerak.
Sangat degil.
Digantung tidak bertali.
Hal seorang yang menjadi gundik yang tidak sah atau yang telah ditinggalkan suaminya tetapi belum ditalak.
Digantung tinggi, dibuang jauh.
Tidak berkuasa sedikit jua; lemah sekali.
Digantungkan tinggi, digalikan dalam.
Perjanjian yang diperbuat dengan syarat-syarat yang teguh.
Digenggam takut mati, dilepaskan takut terbang.
Menghadapi sesuatu masalah yang sangat sulit; dalam keadaan yang serba salah.
Digenggam tiada tiris.
Sangat berhemat dan hati-hati dalam mengeluarkan uang.
Dihujani kering, dijemur basah.
Berbuat sesuatu pekerjaan yang menyusahkan orang lain.
Diidam seperti babi lemak. (diidam = menaruh dendam.)
Dendam yang tak habis.
Diimbau berbunyi, dilihat bersua. (diimbau = dipanggil).
Kebenaran yang tak dapat dibantah.
Diindang ditampi teras, dipilih antah satu-satu.
Jika hendak mencari isteri, menantu atau pegawai hendaklah diusul periksa betul-betul jangan tersalah pilih.
Diiringkan menyepak, dikemudiankan menanduk.
Keadaan yang serba salah, terutama dalam menghadapi orang bodoh; diajak berunding tak tentu pikirannya, tak diajak ia marah.
Dijemba-jemba bagai bersiang, dihela surut bagai bertanam. (bersaing = mebersih-bersihkan).
Mengatur-atur sesuatu supaya baik.
Dijual sayak, dibeli tempurung.
Yang baru tidak berbeda daripada yang lama.
Dijunjung merekah kepala, dipikul meruntuh bahu.
Perintah atau hukuman yang sangat berat dan keras.
Dikacak betis sudah bak betis, dikacak lengan sudah bak lengan. (dikacak = dipegang.)
Orang yang menyangka dirinya telah cukup kuat (tentang uang atau akal) sehingga tidak perlu meminta bantuan daripada orang lain lagi; angkuh dan sombong.
Dikatakan berhuma lebar, sesapan di halaman. (sesapan = semak belukar).
Memegahkan harta milik dan kebolehannya, tetapi harta milik dan kebolehannya itu tidak seberapa.
Dikatakan mati emak, tak dikatakan mati bapa.
Menghadapi sesuatu masalah yang sangat sulit; dalam keadaan yang serba salah.
Dikati sama berat, diuji sama merah.
Pangkat atau kedudukan yang sama.
Dikembar seperti benang.
[Perempuan]] yang menduakan suaminya.
Dikerkah dia menampar pipi, dibakar dia melilit puntung.
Tidak mau mendiamkan diri terhadap perlakuan yang tidak baik.
Dikulum menjadi manikam, dimuntahkan (= diludahkan) menjadi sekam.
Diam itu lebih baik daripada berkata-kata.
Dikunyah patah gigi, ditelan sembelit.
Membuat sesuatu pekerjaan tanpa pengetahuan adalah sia-sia saja.
Dilahir serupa tidak, dibatin menggunting angin.
Hidup dalam pura-pura; pada lahirnya tidak suka tetapi batinnya ingin mendapat lebih banyak lagi.
Dilambai tak nampak, diseru tak dengar.
Tiada mau mendengar nasihat orang.
Dilelar timba ke perigi; tak sekali, sekali pecah juga. (lelar = berulag-ulang).
Sesuatu perbuatan yang tak baik itu jika diulang maka lambat-laun jahat juga padahnya.
Dilengah (= dimabuk) beruk berayun.
Asyikkan sesuatu yang tidak ada gunanya.
Dilihat galas berlaba, dihitung pokok termakan.
Lahirnya saja untung, tetapi yang sebenarnya rugi.
Dilihat si pulut, ditanak berderai.
Kelihatan seperti orang kaya, tetapi yang sebenarnya miskin.
Dilumas dengan daun katang-katang.
Sangat marah.
Dimakan kapang habis berlubang. (kapang = sejenis teritip.)
Menderita penyakit kelamin.
Dimakan mati emak, diluahkan mati bapa.
Menghadapi sesuatu masalah yang sangat sulit; dalam keadaan yang serba salah.
Dimandikan dengan air segeluk.
Pujian yang tidak ada artinya; pertolongan yang tidak mencukupi.
Diminta tebu diberi tembarau. (tembarau = gelagah, temerau.)
Yang diberi berlainan daripada yang diminta.
Dinding teretas, tangga terpasang. (retas =toreh dengan senjata tajam).
Kejadian yang sudah cukup buktinya.
Dipandang dekat, dicapai tak boleh.
Sesuatu yang kita inginkan tetapi tiada berdaya untuk mengambilnya.
Dipanggang tiada hangus.
Selamat dalam menempuh bermacam-macam percubaan.
Dipegang lengan sudah bak lengan, dipegang betis sudah bak betis.
Orang yang menyangka dirinya telah cukup kuat (tentang uang atau akal) sehingga tidak perlu meminta bantuan daripada orang lain lagi; angkuh dan sombong.
Diperbesar isap (hisap), hitam bibir.
Membelanjakan uang dengan boros dan akhirnya hidup melarat.
Diperluas parak, tidak disiangi.
Kalau mata pencarian sudah bertambah, hendaklah dijaga dengan baik-baik.
Dipujuk dia menangis, ditendang dia tertawa.
Kelakuan yang tidak senonoh.
Dipukul lutut sakit, direngkuh siku ngilu.
Keadaan yang serba salah.
Diraih siku ngilu, direngkuh lutut sakit.
Keadaan yang serba salah.
Diratapi langau hijau.
Anak dagang yang mati di rantau orang.
Direbus tak empuk.
Sangat sukar dikalahkan.
Direndam tak basah.
Sangat sukar dikalahkan.
Dirintang siamang berbuai.
Asyikkan sesuatu yang tidak ada gunanya.
Disambut dengan penyapu tak bersimpai.
Dihalau keluar dari sesuatu majlis keramaian karena dibenci orang.
Disangka panas sampai ke petang, kiranya hujan tengah hari.
Disangka akan baik atau mulia selama-lamanya, tetapi tiba-tiba ditimpa bahaya, sehingga jatuh melarat.
Disangka tiada akan mengaram, ombak yang kecil diabaikan.
Mendapat bahaya karena memandang ringan akan perkara (bahaya) yang kecil.
Disangkakan bedena timbul, terpeluk bangkai babi bengkak hanyut.
Orang tamak yang tiada tahu membedakan yang baik dengan yang buruk.
Disangkakan langit itu rendah: dipandang dekat, dicapai tak dapat.
Sesuatu pekerjaan hendaklah dicoba membuatnya lebih dulu sebelum dikatakan mudah atau susah.
Disigai sampai ke langit.
Diselidiki dan diperiksa dengan saksama sehingga bertemu.
Disisih bagai antah.
Diasingkan daripada yang lain karena tidak disukai; tidak boleh ikut campur karena miskin.
Disuruh dituruti, berserah sekehendak hati.
Harap-harap percaya tidak.
Disuruh pergi dipanggil datang, bekerja karena perintah, berhenti karena tegah.
Patuh menurut perintah.
Ditakik bagai berendang, disepakkan bagai berayam.
Pemberian gelaran yang tidak ada ertinya.
Ditakik getah di daun.
Hidup melarat.
Ditambat tidak bertali.
Hidup di luar nikah.
Ditanaknya semua berasnya.
Semua kepandaiannya diperlihatkan sekali gus.
Ditanam tebu di telinga, berkembang bunga raya di muka.
Gembira oleh karena mendengar pujian.
Ditangkap buaya, nampak riaknya; ditangkap malas tak bertanda.
Sifat malas seseorang tak dapat dilihat sebelum disuruh membuat sesuatu kerja.
Ditarik ia menanduk, digiring ia menyepak.
Orang bodoh, yang tidak mau menurut bicara orang.
Ditatang di anak lidah.
Sangat kasih akan anak isterinya.
Ditating bagai minyak penuh.
Diperlakukan dengan sangat hati-hati.
Ditebuk (= dikerbuk) tikus (= tupai).
Sudah hilang gadisnya.
Ditelan tak sengkang.
Semuanya berjalan dengan lancar.
Ditembak dengan peluru petunang.
Perundingan yang berhasil baik.
Ditempuh nyamuk terbalik, ditindih lalat tak dapat bangkit.
Terlalu lemah.
Ditentang langit, langit; ditentang bumi, bumi.
Tidak ada tempat bergantung, melarat sekali.
Ditetak belah dipalu belah, tembikar juga akan jadinya.
Walau diseksa atau disakiti sekalipun, namun kesudahannya menjadi mayat juga.
Ditiarapkan tiada keluar, ditelentangkan tiada masuk.
Menghadapi perkara yang sangat sulit.
Ditindih yang berat, dililit yang panjang.
Kemalangan yang tak dapat dielakkan; tak dapat melepaskan diri daripada kekuasaan orang.
Dititik belah, dipalu belah (= datar).
Sesuatu kerusakan yang tak dapat diperbaiki lagi.
Ditolak tak tumbang.
Pendirian yang teguh; orang yang banyak harta.
Dituba sajakah ikan, dijala dijaring bukankah ikan?
Tidak malu melakukan kejahatan.
Ditumbuk dikisar barulah lumat.
Hendaklah berusaha dengan bersungguh-sungguh hati untuk memperoleh sesuatu barang yang dikehendaki.
Diturutkan gatal tiba ke tulang.
Jika diturut kehendak hawa nafsu, akhirnya jadi binasa.
Diuji sama merah, ditahil (= dikati) sama berat.
Sudah sepadan benar.
Diuji timbang lebih sesaga.
Perbedaan yang sangat kecil.
Dua badan senyawa.
Sangat karib.
Dua ekor gajah berjuang, seekor kancil mati tersepit di tengah.
Orang kecil yang mencampuri pergaduhan antara orang besar-besar akhirnya ia sendiri yang binasa.
Dua kali dua empat.
Sama saja.
Duduk berkelompok, tegak berpusu. (berpusu = berduyun-duyun, berkumpul.)
Mencari orang yang sama setaraf dalam sesuatu majlis.
Duduk berkisar, tegak berpaling.
Memungkiri apa yang telah dikatakan dulu.
Duduk berkurung siang malam.
Orang yang tak keluar-keluar dari rumahnya.
Duduk dalam duri yang banyak, bersandar di batang rengas.
Hidup yang serba salah, karena menghadapi bencana.
Duduk dengan cupak dan gantang.
Ketua yang adil.
Duduk dengan sukatan.
Orang yang kaya.
Duduk di ambung-ambung taji.
Selalu dalam kekhuatiran.
Duduk di dalam tabir langit-langit, berbau tembelang.
[Perempuan]] berkurung di dalam rumah, tetapi kejahatannya telah tersiar ke mana-mana.
Duduk meraut ranjau, tegak meninjau jarak.
Selalu bekerja tidak berhenti-henti.
Duduk sama rendah, berdiri (= tegak) sama tinggi.
Sama setaraf.
Duduk sehamparan, tegak sepematang.
Dua orang yang sama darjatnya di dalam adat.
Duduk seorang bersempit-sempit, duduk banyak (= bersama) berlapang-lapang.
Buah fikiran yang diperoleh di dalam sesuatu perundingan itu lebih baik daripada buah fikiran kita sendirian saja.
Duduk seperti kucing, melompat seperti harimau.
Orang pendiam yang tangkas bekerja dan berfikir.
Dulu besi, sekarang timah.
Orang berpangkat yang telah diturunkan pangkatnya.
Dulu buah daripada bunga; dulu duduk daripada cangkung.
Beranggapan sudah memiliki sesuatu barang yang belum tentu diperoleh.
Dulu intan daripada jawi.
Bekerja dengan tidak menurut peraturan.
Dulu intan, sekarang jadi batu buatan.
Orang berpangkat yang telah diturunkan pangkatnya.
Dulu parang, sekarang besi.
Sudah rusak, tidak dapat dipakai lagi.
Dulu permata intan, sekarang batu Belanda.
Orang berpangkat yang telah diturunkan pangkatnya.
Dulu rampak rimbun daun, kini 'lah sangat merarasi. (raras = gugur, luruh).
Dulu kaya dan cantik, kini papa dan buruk.
Dulu sorak, kemudian tohok. (tohok = campak buang yang diberi bertali).
Menggembar-gemburkan sesuatu yang belum terjadi.
Dulu timah, sekarang besi.
Orang kecil memperoleh pangkat tinggi.
Dulukan yang dulu merasa garam.
Mengutamakan orang tua-tua di dalam sesuatu pekerjaan.
Dunia diadang, saku-saku dijahit.
mau bersuka ria, tidak mau merugi.
Duri di hutan siapa pertajam.
Kekuasaan Tuhan tidak ada batasnya.
Durian dengan mentimun, menggolek rusak, kena golek binasa.
Orang yang lemah itu tidak berdaya untuk melawan orang yang berkuasa, karena baik, salah ataupun benar dia juga yang menanggung kerugian.
Durian seambung dengan timun.
Jika orang yang kuat dan khianat berhimpun dengan orang lemah dan baik, niscaya binasalah yang lemah dan baik itu.
Peribahasa Indonesia Abjad E
Ekor anjing berapa pun dilurut (akan dia) tiada juga betul.
Orang yang memang jahat itu tidak dapat diajar, sekali-sekala ia hendak berbuat jahat juga.
Elang terbang mengawan, agas hendak mengawan juga.
Orang miskin yang hendak meniru-niru perbuatan orang-orang kaya.
Elok arak di hari panas.
Orang yang bersukacita sebab maksudnya sampai.
Elok basa 'kan bekal hidup, elok budi bekal mati. (basa = tegur sapa.)
Orang yang baik bahasanya jadi kesayangan orang selagi hidup, sesudah mati jadi kenang-kenangan.
Elok buruk dan busuk hanyir.
Kesenangan dan kesusahan selalu beriringan.
Elok kata dalam muafakat, buruk kata di luar muafakat.
Apa yang hendak dikerjakan baik dibicarakan dulu dengan kaum keluarga dan sebagainya supaya pekerjaan itu selamat.
Elok lenggang di tempat datar.
Bersuka hati haruslah pada tempatnya atau pada waktunya yang patut.
Elok palut pengebat kurang. (palut = balut, bungkus; kebat = ikat.)
Tampaknya bagus, tetapi sebenarnya masih belum baik.
Emas berpeti, kerbau berkandang.
Harta-benda harus disimpan baik-baik di tempatnya masing-masing supaya selamat.
Embacang buruk kulit.
Kelihatannya tidak baik tetapi yang sebenarnya baik sekali.
Embun di hujung rumput.
Tiada kekal.
Empang sampai ke seberang, dinding sampai ke langit. (empang = bendungan.)
Perselisihan yang tak dapat didamaikan lagi; aturan yang tak dapat diubah.
Empat gasal, lima genap; dikendur berdentang-dentang, ditegang berjela-jela. (gasal = ganjil.)
Tutur kata orang yang bijaksana selalu tersembunyi maksudnya.
Empat sudah bersimpul satu.
Kesempurnaan yang diperoleh daripada empat orang: orang yang berilmu, orang yang berakal, orang yang mahir dan orang yang rajin.
Enak lauk dikunyah-kunyah, enak kata diulang-ulang.
Nasihat yang baik perlu diulang-ulang menyebutnya.
Enau mencari (= memanjat) sigai.
Perempuan mencari lelaki.
Enau sebatang dua sigainya.
Satu pekerjaan yang dikepalai oleh dua orang; seorang perempuan yang menduakan suaminya.
Enggan seribu daya, mau sepatah kata.
Kalau tak suka biasanya banyak alasannya.
Enggang apa kepada enggang; orang apa kepada orang.
Memang mudah menyuruh berbuat begini begitu, tetapi yang sukar ialah yang mengerjakannya.
Enggang lalu atal jatuh, anak raja (mati) ditimpanya. (atal = buah kayu makanan Enggang.)
Lain yang bersalah, lain yang menerima hukuman.
Enggang lalu ranting patah.
Sebab yang secara kebetulan meninggalkan akibatnya.
Engkau belum mencapai pengayuh, aku telah sampai seberang.
Tujuan telah lebih dulu diketahui hanya dengan melihat tingkah laku atau bicaranya saja.
Entak sedegam, langkah sepijak.
Seia-sekata; semuafakat. (degam = bunyi gemuruh.)
Entimun bongkok.
Tidak masuk hitungan dalam pergaulan.
Esa hilang, dua terbilang.
Berusaha dengan keazaman yang bersungguh-sungguh dan tidak takut menanggung risikonya.
Peribahasa Indonesia Abjad
Fikir itu Pelita hati.
Fikiran suluh kebenaran.
Peribahasa Indonesia Abjad
 Gabak di hulu tanda akan hujan, ceuang di langit tanda akan panas.
Ada tanda-tanda yang menunjukkan akan terjadi sesuatu hal. (gabak = redup.)
Gadai terdorong ke (pada) Cina.
Telah terlanjur, tidak dapat dicabut atau ditarik kembali.
Gadai terdorong ke pajak, sehari sebulan juga.
Perbuatan yang terlanjur, sekalipun sedikit akibatnya sama juga dengan yang besar.
Gading pada gajah yang sudah keluar itu bolehkah dimasukkan pula?
Raja-raja (orang besar-besar) yang telah turun derajatnya (darjatnya), tak mungkin mencapai kembali martabatnya itu; sesuatu yang sudah ditetapkan (undang-undang, keputusan dan sebagainya) tiadalah dapat diubah lagi.
Gagak bersuara murai.
Rupanya bodoh tetapi suaranya merdu dan baik budi bahasanya.
Gagak dimandikan tujuh kali sehari pun, takkan putih bulunya.
Orang jahat, biarpun diberi kesenangan, namun kalau mendapat kesempatan akan diulangnya juga perbuatan jahatnya itu.
Gagak lalu punggur rebah.
Orang besar yang berlaku kurang adil kepada orang kecil, karena mau memperlihatkan kekuasaannya.
Gaharu dibakar kemenyan berbau.
Memperlihatkan kelebihannya supaya dipercayai orang.
Gajah berak besar, kancil (= pelanduk) pun hendak berak besar, akhirnya mati kebebangan.
Hendak meniru-niru perbuatan orang besar (kaya), akhirnya diri sendiri binasa. (kebebangan = tertahan; tidak dapat terus keluar; juga terbebang.)
Gajah bergajah-gajah, pelanduk mati tersepit.
Kalau raja-raja berselisih, rakyat mendapat susah.
Gajah berhati, kuman pun berhati juga.
Kaya dan miskin sama-sama berfikiran dan bernafsu.
Gajah berjuang sama gajah, pelanduk (= kancil) mati di tengah-tengah.
Kalau raja-raja berselisih, rakyat mendapat susah.
Gajah dialahkan oleh pelanduk.
Orang berkuasa dapat dialahkan oleh orang lemah; perempuan bangsawan yang diperisteri oleh orang kebanyakan.
Gajah dipandang seperti kuman.
Terlalu marah.
Gajah ditelan ular lidi.
Orang berkuasa dapat dialahkan oleh orang lemah; perempuan bangsawan yang diperisteri oleh orang kebanyakan.
Gajah empat kaki lagi tersaruk.
Orang besar-besar itu ada waktunya akan kehilangan kebesarannya; nasib tidak dapat ditentukan.
Gajah harimau di hutan hendak diburu, pijat-pijat di bantal tak dapat dihapuskan. (tersaruk = tersandung.)
Kejahatan orang besar dan orang yang lebih kuat daripada kita hendak dibasmi, kejahatan anak buah sendiri di rumah tiada dapat di atasi.
Gajah hendak berak besar, kita pun hendak berak besar juga.
Hendak meniru-niru perbuatan orang besar (kaya), akhirnya diri sendiri binasa.
Gajah lalu dibeli, kusa tidak terbeli. (kusa = besi penghalau gajah.)
Mengerjakan sesuatu yang besar, tetapi melupakan hal-hal yang kecil-kecil yang perlu untuk menyelesaikan yang besar itu.
Gajah lalu kumpai layu. (kumpai = sejenis rumput layu.)
Hendak meniru-niru perbuatan orang besar (kaya), akhirnya diri sendiri binasa.
Gajah masuk kampung, kalau kayu (= pohon) tak tumbang, rumput layu juga.
Orang yang berkuasa dapat berbuat sekehendak hatinya dalam lingkungan orang lemah (orang kecil).
Gajah mati dicatuk katak.
Orang berkuasa dapat dialahkan oleh orang lemah; perempuan bangsawan yang diperisteri oleh orang kebanyakan.
Gajah mati karena gadingnya.
Mendapat kecelakaan karena kelebihannya.
Gajah mati meninggalkan tulang, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.
Orang baik meninggalkan nama baik, orang jahat meninggalkan nama jahat.
Gajah mati, tulang setimbun.
Orang kaya yang mati banyak meninggalkan hartanya.
Gajah memamah aris, baik diikat kera kecil yang memakan buah kayu. (aris = getah kayu yang sudah beku.)
Daripada mengharapkan sesuatu yang besar yang tak mungkin didapati, lebih baik terima saja yang sedikit yang sudah ada di dalam tangan.
Gajah pengangkut lada, kuda pelejang bukit. (lejang = melompat serta lari.)
Anak muda yang menjadi pesuruh orang, karena pujian-pujian.
Gajah rompong belalai.
Raja yang tiada berkuasa.
Gajah sama gajah berjuang, pelanduk mati di tengah-tengah.
Kalau raja-raja berselisih, rakyat mendapat susah.
Gajah seekor gembala dua.
Sesuatu pekerjaan dikepalai oleh dua orang; dua orang lelaki mencintai seorang perempuan.
Gajah terdorong karena gadingnya, harimau terlompat karena belangnya.
Berbuat sesuatu yang kurang baik untuk kelebihannya.
Gajah terum di tengah rumah.
Orang besar-besar bertamu ke rumah orang miskin, sehingga menyusahkan orang yang menerimanya itu. (terum = duduk, dikatakan hanya tentang gajah.)
Galas habis senggulung tandas, lamun dihitung rugi juga.
Perniagaan yang tidak menguntungkan; pekerjaan yang sia-sia.
Galas terdorong kepada Cina.
Telah terlanjur, tidak dapat dicabut atau ditarik kembali.
Gali lubang menutup lubang.
Meminjam uang untuk membayar hutang.
Gamak-gamak seperti menyambal.
Hanya dengan coba-coba atau kira-kira saja.
Ganti hidup berkeredaan, ganti mati berkebulatan.
Mencari ganti seseorang ketua harus dengan muafakat. (reda = rela, senang hati.)
Gantung tak bertali, salai tak berapi.
Isteri yang ditinggalkan suaminya tanpa diceraikan dan tanpa nafkah hidupnya.
Gar-gar, kata gelegar, rasuk juga yang menahannya.
Memang mudah menyuruh berbuat begini begitu, tetapi yang sukar ialah yang mengerjakannya.
Garam di laut, asam di gunung, bertemu dalam belanga juga.
Perempuan dan lelaki, kalau sudah jodoh, bertemu juga akhirnya.
Garam dikulum tak hancur.
Orang yang pandai menyimpan Rahasia.
Garam jatuh di air.
Nasihat yang diterima dengan baik.
Garam tumpah apakah (= pada) tempatnya?
Orang yang hina yang meninggal tidak dihiraukan orang sangat.
Garuda diburu layang-layang yang dapat.
Barang yang diperoleh tidak seimbang dengan yang diinginkan.
Gaya saja, rasanya wallah.
Rupanya saja yang elok, tetapi budi pekertinya buruk.
Gayung bersambut, kata berjawab.
Serangan ditangkis, kata dijawab; baik dibalas dengan baik, jahat dibalas dengan jahat. (gayung = pukulan.)
Gayung tua, gayung memutus.
Perkataan orang tua biasanya tepat.
Gedang gerundang di kubangan, gedang ikan raya di lautan.
Tiap-tiap orang besar (mulia) di tempatnya masing-masing. (gerundang = berudu.)
Gedang kayu, gedang dahannya.
Banyak penghasilan, banyak pula belanjanya.
Gedang sebagai dilambuk-lambuk, tinggi sebagai dijunjung.
Memegahkan diri sendiri dengan kelebihan yang sebenarnya tidak ada.
Gelang di tangan orang yang hendak dirampas tidak dapat, cincin di jari sendiri terlucut hilang.
Orang yang dengki dan tamak itu selalu mendapat kerugian.
Gelang tidak laga sebentuk, laga keduanya.
Cinta kasih mestilah datang daripada kedua-dua belah pihak.
Geleng seperti si patung kenyang.
Berjalan melonjak-lonjak karena sombongnya.
Gemuk membuang lemak, cerdik membuang kawan.
Sesudah kaya atau berpangkat tidak mau menolong atau bergaul dengan keluarganya.
Geneng di tengah lebuh, tahan galah bersijingkat; geneng di tengah medan (gelanggang), tahan taruh di ayam kuyu.(geneng = gagah.)
Menunjukkan gagah kepada orang terpaksalah mengeluarkan uang untuk menolong ataupun untuk perjamuan makan minum.
Genggam bara api biar sampai jadi arang.
Membuat sesuatu pekerjaan yang susah, hendaklah sabar sehingga mencapai kejayaannya.
Genggam-genggam bara, terasa hangat dilepaskan.
Melakukan sesuatu pekerjaan dengan setengah-setengah hati, terasa sukar, lalu ditinggalkan.
Genta saja yang berbunyi, kuda sudah dek gerindin. gerindin = kena sejenis penyakit yang biasa menyerang kuda, badannya gementar macam kedinginan.)
Orang yang masih bagus berpakaian dan gaya congkaknya, tetapi uangnya tiada lagi atau berpenyakitan. (dek
Genting menanti putus, biang menanti tembuk.
Suami isteri yang hampir bercerai; perkara yang hampir putus.
Genting putus, biang tembuk.
Perkara yang sudah putus dan tidak dapat diubah lagi, suami isteri yang sudah bercerai.
Geruh luka ajal mati.
Untung baik luka saja; untung tak baik, mati.
Geruh menempuh dalam tubuh.
Nasib buruk yang mempengaruhi diri. (geruh = sial, malang.)
Geruh tak berbunyi, malang tak berbau.
Kemalangan terjadi tanpa diketahui.
Geruh tak mencium bau.
Kemalangan terjadi tanpa diketahui.
Getah meleleh ke pangkal, daun melayang jauh.
Anak sendiri lebih dikasihi daripada anak saudara.
Getah terbangkit (= diangkat) kuaran tiba.
Perhitungan yang salah. (kuaran = burung kuak-kuak.)
Getikkan puru di bibir. (getik = menggetil.)
Tak dapat membencikan anak isteri atau keluarga yang buruk kelakuannya.
Getu sementara lagi bintik.
Sesuatu bahaya hendaklah dihindarkan selagi kecil agar jangan sampai menimbulkan malapetaka.
Gigi dengan lidah ada kalanya bergigit juga.
Kerap kali juga timbul perselisihan antara suami isteri, sanak saudara dan sahabat handai.
Gigi tanggal, rawan murah.
Keinginan datang sesudah tak ada kesempatan lagi.
Gigi telah gugur, tebu pun menjadi.
Keinginan datang sesudah tak ada kesempatan lagi.
Gila di abun-abun. (abun-abun = angan-angan.)
Mengangan-angankan sesuatu yang mustahil.
Gombak gemilang kutu banyak, bibir hitam gigi kotor.
Bersih dan cantik di luar, tetapi hatinya busuk. (gombak = rambut, jambul.)
Gulai sedap nasi mentah, nasi sedap gulai mentah.
Perbuatan yang tidak sempurna.
Gulai terlampau serai maung rasanya.
Perbuatan (perkataan) yang berlebih-lebihan akhirnya akan menjadi sia-sia.
Guna-guna alu, sesudah menumbuk dicampakkan.
Digunakan sewaktu ada perlunya, setelah itu ditinggalkan.
Gundahkan buah dimakan burung.
Bersusah hati terhadap wanita yang sudah menjadi isteri orang.
Gunung juga yang dilejang panas.
Biasanya orang yang sudah kaya juga yang mendapat untung atau bertambah kekayaannya; orang yang telah biasa berbuat kejahatan, tentu dituduh bila terjadi kejahatan.
Gunung yang tinggi akan runtuh, jika setiap hari digali.
Biar bagaimana sekalipun banyaknya harta, akan habis juga jika selalu diboroskan dan tiada ditambah-tambah.
Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.
Murid yang mencontohi kelakuan gurunya terutama dalam hal yang tidak baik.
Peribahasa Indonesia Abjad H  
Habis adat karena kerelaan.
Adat dapat diubah atau ditiadakan oleh muafakat, dengan persetujuan atau perdamaian.
Habis air setelaga, arang dibasuh tak putih.
Orang jahat, biarpun diberi kesenangan, namun kalau mendapat kesempatan akan diulangnya juga perbuatan jahatnya itu.
Habis akal baru tawakal.
Berserah diri kepada Tuhan sesudah habis semua ikhtiar.
Habis beralur maka beralu-alu. (beralur = berunding).
Mula-mula berunding dengan baik, tetapi kalau tidak dapat juga mencapai persetujuan barulah kekuatan tenaga diadu.
Habis cupak dari pelelehan.
Adat yang dilanggar sedikit demi sedikit itu akhirnya akan dilanggar semua sekali. (pelelehan (leleh) = tiris, bocor.)
Habis geli oleh geletek, habis rasa (= bisa) oleh biasa.
Sesuatu yang kurang menyenangkan itu akan hilang, apabila telah menjadi kebiasaan.
Habis hulubalang bersiak. (siak = orang yang hidup miskin karena Allah).
Apabila sudah tidak ada orang yang akan diperintah, maka diri sendirilah yang harus mengerjakannya.
Habis kapak berganti beliung.
Sangat rajin bekerja.
Habis kuman disembelih hendak memberi makan gajah.
Menyusahkan orang kecil karena hendak menyenangkan orang besar-besar.
Habis manis sepah dibuang.
Digunakan sewaktu ada perlunya saja, setelah itu ditinggalkan.
Habis miang karena bergeser.
Sesuatu kesukaran akan hilang apabila sudah menjadi kebiasaan.
Habis minyak sepasu, ekor anjing diurut tiada akan lurus.
Tabiat seseorang yang jahat, sangat sukar hendak diubah.
Habis sampan kerong-kerong tak dapat
Melakukan perbuatan yang sia-sia .
Habis tenggang dan (= dengan) kelakar.
Tidak berdaya lagi.
Habis umpan kerong-kerong tak dapat.
Perbuatan dan usaha yang mendatangkan rugi.
Hancur badan dikandung tanah, budi baik terkenang juga.
Budi bahasa yang baik tidak akan dilupakan orang walaupun sudah mati.
Hang tak kurang sanggul, aku tak kurang tengkolok.
Hilang satu ada lagi ganti yang lain (tentang lelaki dan perempuan).
Hangat tiada berapi, sejuk tiada berair.
Orang jahat, biarpun diberi kesenangan, namun kalau mendapat kesempatan akan diulangnya juga perbuatan jahatnya itu.
Hangat-hangat tahi (= cirit) ayam.
Tidak bersungguh-sungguh.
Hanya air dingin yang dapat memadamkan api.
Kata-kata yang lemah-lembut saja yang dapat mendinginkan hati yang sedang marah.
Hanyut dipintasi, lulus diselami, hilang dicari.
Menolong seseorang yang ditimpa kesusahan.
Harap hati hendak peluk gunung, apa akal (= daya) tangan tak sampai.
Kehendak hati terlalu besar sehingga tiada upaya untuk mencapainya.
Harap hendak melonjak, kopiah pesuk.
Segala harta-benda habis dibelanjakan, karena hendak hidup mewah.
Harap hendak meraup, tidak boleh menggenggam. (meraup = mencedok dengan tangan).
Segala harta-benda habis dibelanjakan, karena hendak hidup mewah.
Harap ke mulut besar cakap, kerja suatu tak boleh cekap.
Cakapnya saja yang besar tetapi buktinya tidak ada.
Harap lenggang serdadu, destar teleng, belanja kurang.
Gaya saja yang gagah, tetapi tidak beruang.
Harapkan anak, buta mata sebelah; harapkan teman, buta keduanya.
Dalam membuat sesuatu pekerjaan, janganlah diharapkan kepada orang lain; walaupun kepada anak sendiri.
Harapkan burung terbang tinggi, punai di tangan dilepaskan.
karena mengharapkan keuntungan yang besar tetapi belum tentu diperoleh, keuntungan yang kecil tetapi sudah pasti, dilepaskan.
Harapkan guruh (= guntur) di langit, air tempayan ditumpahkan.
karena mengharapkan keuntungan yang besar tetapi belum tentu diperoleh, keuntungan yang kecil tetapi sudah pasti, dilepaskan.
Harapkan kuning kuah kambeh, cangkuk terubuk ditinggalkan.
karena mengharapkan keuntungan yang besar tetapi belum tentu diperoleh, keuntungan yang kecil tetapi sudah pasti, dilepaskan. (kambeh = peria; cangkuk = pekasam.)
Harapkan si untung menggamit, kain di badan didedahkan.
karena mengharapkan keuntungan yang besar tetapi belum tentu diperoleh, keuntungan yang kecil tetapi sudah pasti, dilepaskan.
Harapkan si untut menggamit, kain koyak diupahkan.
Percaya kepada orang yang sangat malas.
Hari baik (= pagi) dibuang-buang, hari buruk (= petang) dikejar-kejar.
Masa yang baik dibiarkan lalu, kemudian tergopoh-gopoh mengejar waktu yang sudah sempit.
Hari guruh takkan hujan.
Orang yang terlalu marah biasanya tidak sampai memukul.
Hari ini patutlah redup (= panas keras).
Mengharapkan sesuatu keuntungan; sangkaan yang tidak baik.
Hari ini sedang panas panjang, kacang telah lupakan kulitnya.
Orang miskin jadi kaya, lupa akan dirinya.
Hari ini terlebih baik daripada besok.
Yang dapat diusahakan hari ini janganlah ditangguhkan sampai besok.
Hari tak selamanya panas.
Untung dan malang silih berganti.
Hari tidak siang saja.
Tidak selamanya senang terus-menerus.
Harimau bertempek tak (kan) makan orang.
Orang yang terlalu marah biasanya tidak sampai memukul.
Harimau ditakuti sebab giginya.
Orang besar-besar itu ditakuti karena kekuasaannya.
Harimau hendak menghilangkan jejaknya.
Orang jahat hendak menyembunyikan kejahatannya.
Harimau mati karena belangnya.
Mendapat kecelakaan karena kelebihannya.
Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan daging, manusia mati meninggalkan nama.
Orang baik meninggalkan nama baik, orang jahat meninggalkan nama jahat.
Harimau memperlihatkan kukunya.
Orang yang memperlihatkan kekuasaannya.
Harimau mengaum takkan menangkap.
Orang yang terlalu marah biasanya tidak sampai memukul.
Harimau menunjukkan belangnya.
Orang yang memperlihatkan kekuasaannya.
Harimau menyorokkan kuku.
Orang yang menyembunyikan kelebihannya.
Harimau puntung kena penjara, pelanduk kecil menolakkan mara.
Ada masanya kesusahan orang besar lagi berkuasa itu ditolong oleh orang yang lemah dan kecil.
Harimau tidak merendahkan dirinya untuk menangkap cicak sebagai mangsanya.
Orang besar yang tidak mau bertindak dengan tindakan-tindakan yang merendahkan tarafnya.
Harta orang hendak digalas.
Orang yang mau mengambil harta orang lain.
Harta orang hendak dikebas.
Orang yang mau mengambil harta orang lain.
Harta pulang ke tuan (= empunya).
Sudah pada tempatnya.
Harum menghilangkan bau.
Keburukan telah dilindungi oleh kebaikan.
Harum semerbak mengandung mala. (mala = air bangkai yang telah busuk).
Jasa yang dipuji-puji, tetapi jasa itu diperoleh dengan jalan yang curang.
Haruslah air disauk, dan ranting dipatah; lama hidup banyak merasa, jauh berjalan banyak dilihat.
Orang yang merantau haruslah menurut adat kebiasaan tempat yang didiaminya.
Hati bagai baling-baling.
Pendirian yang tidak tetap.
Hati bagai pelepah, jantung bagai jantung pisang.
Orang yang tidak ada perasaan.
Hati bak serangkak dibungkus.
Sangat berharap-harap akan mendapat sesuatu yang diingini.
Hati gajah sama dilapah, hati kuman (= tuma) sama dicecah.
Pembahagian yang sama rata; banyak sama-sama banyak, sedikit sama-sama sedikit.
Hati gatal mata digaruk.
Ingin mengerjakan sesuatu tetapi tidak berdaya karena kurang ilmu dan tidak cekap.
Hati hendak semua jadi.
Jika ada kemauan, semua dapat dikerjakan.
Hati orang yang bodoh itu di mulutnya, dan lidah orang yang cerdik itu di belakang hatinya.
Orang bodoh berbicara tanpa perhitungan, orang pandai berfikir sebelum berkata-kata.
Hati yang ringan meringankan beban yang berat.
Semua pekerjaan yang dilakukan dengan kerelaan niscaya menjadi mudah.
Hati yang suka peringan beban.
Semua pekerjaan yang dilakukan dengan kerelaan niscaya menjadi mudah.
Hawa pantang kerendahan, nafsu pantang kekurangan.
Hawa nafsu tiada mau kalah daripada orang lain.
Hemat pangkal kaya, sia-sia hutang tambah.
Hemat dan cermat mendatangkan kesenangan, boros dan membazir mendatangkan kesukaran.
Hempas tulang berisi perut.
Rajin bekerja (berusaha) mudah mendapat rezeki.
Hempas tulang tak berbalas jasa.
Berpenat telah tetapi tidak ada hasilnya.
Hendak air pancuran terbit.
Yang diperoleh lebih daripada yang dikehendaki.
Hendak belajar berenang dapatkan itik, hendak belajar memanjat dapatkan tupai.
Hendak mengetahui sesuatu perkara bertanyalah kepada orang yang ahli dalam perkara itu.
Hendak bersunting bunga mala.
Hendak beristeri perempuan tua.
Hendak bersunting bunga yang belum diseri kumbang.
Hendak beristeri anak gadis.
Hendak bertanduk kepala dipahat.
karena hendak menunjukkan kemegahan, rela berhutang atau berbuat sesuatu yang dapat mendatangkan bencana kepada diri sendiri.
Hendak dimasukkan ke dalam sumpit tak maut; ke dalam keranjang longgar.
Sesuatu yang tidak sempurna menyebabkan keadaan menjadi sukar.
Hendak ditelan termengkelan, hendak diludah tiada keluar.
Menghadapi sesuatu masalah yang sangat sulit; dalam keadaan yang serba salah.
Hendak harum terlalu hangit.
karena terlalu hendak meninggikan diri akhirnya mendapat malu.
Hendak hinggap tiada berkaki.
Ingin berbuat sesuatu tetapi tidak berdaya.
Hendak kaya berdikit-dikit, hendak tuah (= mulia) bertabur urai, hendak berani berlawan ramai.
Hemat tangga kekayaan, murah hati tangga tuah, banyak lawan mendatangkan berani.
Hendak kerja golok Keling, hendak makan parang punting.
Malas bekerja tetapi banyak makan.
Hendak mara bedil bertinak, hendak undur gelar telah besar.
Keadaan yang serba salah pada orang yang telah diberi pangkat; hendak memelihara tarafnya tiada cukup uangnya, hendak undur malu karena pangkatnya sudah tinggi.
Hendak masak langsung hangus.
karena terlalu hendak meninggikan diri akhirnya mendapat malu.
Hendak melangkah kaki pendek, hendak mencapai tangan tak sampai.
Ingin membuat sesuatu pekerjaan tetapi tidak berdaya karena kekurangan uang dan alat.
Hendak meluruskan ekor anjing.
Sukar untuk mengubah kelakuan yang sudah menjadi tabiat.
Hendak memadam api tengah menyala, disiramkan minyak pula ke atasnya.
Orang yang sedang marah malah diapi-apikan pula.
Hendak memikat balam, balam jugalah penunggunya.
Hendak mencari orang pandai, maka orang yang pandai pulalah yang tahu mencarinya.
Hendak menangguk ikan, tertangguk akan batang.
Hendakkan laba, rugi yang diperoleh.
Hendak mendapat pisang terkupas.
Inginkan kesenangan tetapi malas berusaha.
Hendak menebang merebahkan, hendak mencencang memutuskan.
Hendak berbuat sesuka hati saja, tanpa memikirkan sesuatu yang lain.
Hendak mengayuhkan perahu tertambat.
Hendak kawin dengan perempuan yang masih dalam edahnya.
Hendak mengepal pasir kering.
Membuat pekerjaan yang sukar.
Hendak menggaruk tidak berkuku.
Hendak berusaha tetapi alat syaratnya tiada ada.
Hendak panjang terlalu, patah.
karena terlalu hendak meninggikan diri akhirnya mendapat malu.
Hendak pergi berotan jangan takut onaknya.
Hendak membuat sesuatu pekerjaan yang besar, janganlah takut menghadapi percobaan.
Hendak seribu daya, tak hendak seribu upaya.
Tiap-tiap ada kemauan, tentu ada jalan.
Hendak singa di tengah padang lagi, daripada ular di dalam rumput.
Lebih baik berdepan dengan musuh besar di tempat terang daripada musuh kecil di dalam sulit.
Hendak sombong berbini banyak, hendak megah berlawan lebih.
karena hendak memperlihatkan ketinggian diri, maka hidup dalam kesukaran.
Hendak terbang tiada bersayap.
Ingin berbuat sesuatu tetapi tidak berdaya.
Hendak tinggi terlalu, jatuh.
karena terlalu hendak meninggikan diri akhirnya mendapat malu.
Hendak ucok (= damai) dilawan damai, hendak perang giling peluru.
Bersedia menghadapi segala kemungkinan. (ucok = berunding mencari jalan damai.)
Hendak ulam, pucuk menjulai.
Yang diperoleh lebih daripada yang dikehendaki.
Hendak untung menjadi buntung.
Hendakkan laba, rugi yang diperoleh.
Hendak(nya) saja yang besar, masuknya tak (se)berapa.
Banyak cakap, tetapi buktinya sedikit sekali.
Hendakkan halus, genting; genting putus sudahnya.
Perbuatan yang melebihi batasnya tentu tidak selamat dan akhirnya akan mendatangkan kerugian.
Hendaklah seperti tembikar, pecah satu pecah semuanya.
Hendaklah hidup dalam muafakat; senang sama-sama senang, susah sama-sama susah.
Hidung dicium, pipi digigit.
Kasih sayang yang pura-pura saja; menyembunyikan perbuatan jahat dengan perbuatan baik.
Hidung sudah rampung diatur orang.
Orang bodoh yang sombong, tiada sedar dirinya dibodohi orang.
Hidung tak mancung, pipi tersorong-sorong.
Suka ikut campur dalam urusan orang lain; menonjol-nonjolkan diri.
Hidup di hujung gurun orang.
Hidup melarat.
Hidup dikandung adat, mati dikandung tanah.
Selama masih hidup, mestilah menurut aturan-aturan yang berlaku, sudah mati terserahlah kepada hukum Tuhan.
Hidup dua muara.
Hidup dengan dua macam pencarian.
Hidup kayu berbuah, hidup manusia biar berjasa (= berfaedah).
Berbuat baiklah semasa masih hidup untuk diri sendiri dan untuk masyarakat.
Hidup sandar-menyandar umpama aur dengan tebing.
Suami isteri yang berkasih-kasih; sahabat yang setia dan bertolong-tolongan.
Hidup segan mati tak mau (= embuh).
Hidup melarat (miskin atau selalu sakit-sakit).
Hidup tidak karena doa, mati tidak karena sumpah.
Berusahalah dengan tenaga dan fikiran sendiri, dan jangan mengharapkan sangat pertolongan orang lain.
Hilang adat tegal muafakat.
Adat kebiasaan boleh diubah asalkan ada persetujuan orang banyak.
Hilang bahasa lenyap bangsa.
Apabila sesuatu bahasa itu sudah tidak terpakai lagi maka lambat-laun hilanglah bangsa itu; hilang budi bahasa hilang derajat (darjat) diri.
Hilang bini boleh dicari, hilang budi badan celaka.
Akal yang jahat dapat mendatangkan kecelakaan kepada diri.
Hilang di mata di hati jangan.
Walaupun tempat tinggal berjauhan tetapi selalulah ingat di dalam hati.
Hilang dicari, terapung digenangi, terbenam diselami.
Memeriksa dengan teliti; menolong seorang dalam kesusahan.
Hilang ikan dalam kerabu. (kerabu = sejenis makanan.)
Kejahatan akan hilang jahatnya apabila tiap-tiap orang ikut mengerjakannya.
Hilang jasa beliung, timbul jasa rimbas. (rimbas = perkakas untuk penarah kayu.)
Orang lain yang berbuat kebaikan (berlelah payah), orang lain pula yang mendapat pujian.
Hilang kabus, teduh hujan.
Telah mendapat kesenangan sesudah menderita kesusahan.
Hilang kemarau setahun oleh hujan sehari.
Kebaikan hilang karena kejahatan sedikit.
Hilang kepala kura-kura ditelan oleh dadanya.
Orang hina tetapi berilmu dan bijaksana tetap akan dihormati orang.
Hilang kilat dalam kilau.
Kepandaian atau kebesaran sudah tak kelihatan lagi apabila bercampur dengan orang pandai-pandai atau orang besar-besar.
Hilang pelanduk berganti kijang emas.
Perempuan yang bercerai daripada suaminya yang hina kemudian kawin dengan seorang lelaki yang mulia.
Hilang penjahit berkerbau-kerbau.
Lebih banyak ongkos perkara daripada harga barang-barang yang diperkarakan.
Hilang rona karena penyakit, hilang bangsa tidak beruang.
Orang yang tidak berharta (beruang) kurang dihargai orang.
Hilang sepuh nampak senam. (sepuh = sadur; senam = warna yang asal.)
Tampak kejahatannya, sesudah terbuka Rahasianya.
Hilang tak tentu rimbanya.
Hilang tidak berbekas.
Hilang tapak tukul, timbul tapak canai. (tukul = pemukul kecil; canai = asah.)
Perbuatan (baik dan jahat) orang yang terlebih dulu itu telah hilang, karena dilindungi oleh perbuatan orang yang kemudiannya.
Hilang tentu rimbanya, mati tentu kuburnya.
Sesuatu hal atau perkara yang sudah tentu kesudahannya.
Hilang tukul hilanglah pahat.
Tidak dapat melakukan sesuatu pekerjaan kalau tidak berteman.
Hilir malam mudik tak singgah, daun nipah dikatakan daun labu.
Malas berusaha tentulah susah; segan bertanya sesat jalan.
Hinggap bak langau, titik bak hujan.
Hal yang terjadi dengan tiba-tiba (kemalangan dan sebagainya).
Hinggap mencengkam (dahan), terbang menumpu (dahan).
Jika merantau hendaklah mencari keluarga atau kawan kenalan tempat menumpangkan diri.
Hinggap saja bagai langau.
Hal yang terjadi dengan tiba-tiba (kemalangan dan sebagainya).
Hinggap seperti benalu. (benalu = pasilan.)
Menumpang, kemudian merusakkan tempat tumpangannya itu.
Hitam bagai buntut (= pantat) belanga.
Perihal keburukan sifat seseorang.
Hitam dikatakan putih, putih dikatakan hitam.
Yang buruk dikatakan baik, yang baik dikatakan buruk; berdusta.
Hitam gagak tiada siapa yang mencelupnya.
Orang yang berbuat jahat dengan kehendaknya sendiri.
Hitam mata itu takkan boleh bercerai dengan putihnya.
Orang yang sedang berkasih-kasihan tak dapat dipisahkan satu sama lain.
Hitam tahan tempa, putih tahan sesah.
Dapat diuji, tentang keasliannya; tetap tidak berubah.
Hitam-hitam bendi, putih-putih sadah. (bendi = kereta kuda; sadah = kapur.)
Yang buruk lebih mahal harganya daripada yang cantik.
Hitam-hitam gajah, putih-putih udang kepai.(udang kepai = udang kecil untuk dibuat belacan.)
Yang hina tetap hina walaupun elok rupanya, yang mulia itu tetap mulia walaupun hodoh rupanya.
Hitam-hitam gula Jawa.
Biarpun hitam tetapi manis.
Hitam-hitam kereta api, putih-putih kapur sirih.
Yang buruk lebih mahal harganya daripada yang cantik.
Hitam-hitam tahi minyak dimakan juga, putih-putih hampas kelapa dibuang.
Barang yang buruk tetapi berguna, disimpan; barang yang cantik tetapi tidak berguna, dibuang.
Hujan berbalik ke langit.
Orang berkuasa minta pertolongan kepada orang yang lemah.
Hujan berpohon, panas berasal.
Segala sesuatu tentu ada sebab-musababnya.
Hujan emas di negeri orang, hujan batu (= keris lembing) di negeri sendiri, baik juga di negeri sendiri.
Walau bagaimanapun mewah dan makmurnya negeri orang, namun negeri sendiri juga yang lebih baik.
Hujan emas perak di negeri orang; hujan keris lembing di negeri kita; baik juga di negeri kita.
Walau bagaimanapun mewah dan makmurnya negeri orang, namun negeri sendiri juga yang lebih baik.
Hujan jatuh ke pasir.
Berbuat baik tidak pada tempatnya.
hujan keris lembing di negeri kita, hujan emas perak di negeri orang; baik juga di negeri kita.
Walau bagaimanapun mewah dan makmurnya negeri orang, namun negeri sendiri juga yang lebih baik.
Hujan menimpa bumi.
Tiada dapat melepaskan diri daripada perintah orang-orang yang berkuasa.
Hujan panas permainan hari, senang susah permainan hidup.
Dalam hidup manusia ada kalanya senang dan ada kalanya susah.
hujan tak sekali jatuh, simpai tak sekali erat.
Keuntungan dan bahagia tidak datang sekali gus. (simpai = gelang-gelang daripada rotan.)
Hujan, tempat berteduh; panas, tempat berlindung.
Orang yang selalu memberi pertolongan kepada orang-orang yang mendapat kesusahan.
Hujung lurus, pangkal berkait.
Kelihatannya baik, tetapi di dalam hatinya jahat.
Hukum berdiri dengan sakti, adat berdiri dengan tanda.
Undang-undang agama kuat dengan keterangan-keterangan lisan, undang-undang adat kuat dengan tanda-tanda bukti.
Hukum yang rata, adat yang datar.
Sesuatu yang sama baiknya.
Hulu malang pangkal celaka.
Permulaan segala bencana.
Hulu mujur pandai bertengkar, hulu baik pandai memakai. (hulu mujur = pangkat untung.)
Orang yang pandai hidup dan pandai membawa diri dalam pergaulan, selalu selamat dan disukai orang.
Hutang (= pinjam) kayu ara.
Hutang yang tak mungkin terbayar.
Hutang biduk belum langsai, Hutang pengayuh datang pula.
Hutang yang dulu belum dibayar, sudah berhutang lagi.
Hutang emas dapat (= boleh) dibayar, Hutang budi dibawa mati.
Budi baik orang haruslah diingat selama-lamanya, karena budi bahasa tak dapat dibayar dengan uang.
Hutang samir belum selesai, hutang kajang tumbuh pula.(kajang =benda yang dianyam daripada daun nipah (buluh, mengkuang, dll) digunakan untuk atap atau pelindung daripada panas
Hutang yang dulu belum dibayar, sudah berhutang lagi.
Hutang sebelit (selilit) pinggang.
Sangat banyak hutangnya.
Hutang tembilang belum langsai, Hutang tajak bila pula.
Hutang yang dulu belum dibayar, sudah berhutang lagi.
Hutang tiap helai bulu.
Sangat banyak hutangnya.
Peribahasa Indonesia Abjad
Iba akan kacang sebuah, tak jadi memengat.
karena sayang akan perkara yang sedikit, tak tercapai apa yang dimaksudkan.
Ibarat ayam: tiada mengais tiada makan.
Sangat miskin.
Ibarat beban sudah ke tepi.
Suatu pekerjaan yang sudah hampir selesai, atau rundingan yang hampir mencapai kata sepakat. (ke tepi = maksudnya: sudah di pintu, akan dibawa turun.)
Ibarat beban, belum lepas daripada bahu
Belum lepas daripada tanggungan (anak lelaki atau anak perempuan).
Ibarat bunga: sedap dipakai layu dibuang.
Perempuan yang dikasihi sementara muda, tetapi setelah tua lalu diceraikan. (sedap = maksudnya: segar.)
Ibarat burung: mata lepas badan terkurung.
Tidak ada kemerdekaan.
Ibarat burung: mulut manis jangan dipakai.
Perkataan manis selalu berisi semu di dalamnya. (semu = tipu, khianat.)
Ibarat dawat (dakwat) dengan kertas: bila boleh renggang terlepas.
Suami isteri yang berkasih-kasihan.
Ibarat gasing: berpaku tetap berpusing, tak berpaku merayau.
Lelaki yang sudah beristeri, biar bagaimanapun ia berjalan namun ia tetap akan kembali ke rumahnya juga.
Ibarat kutu, boleh diselisik. (selisik = diraba-raba dengan jari di dalam rambut.)
Kesalahan atau keburukan tidak dapat disembunyikan.
Ibarat negeri berubah rasam; ibarat tahun berubah musim.
Orang yang tidak tetap kedudukannya. (rasam = adat, kebiasaan.)
Ibarat pasir: sekali air dalam sekali berubah.
Rakyat jelata terpaksa menurut perubahan pada tiap-tiap kali pemerintahan bertukar.
Ibarat perahu takkan karam sebelah.
Kaum keluarga ikut bersimpati atas kecelakaan yang menimpa kerabatnya.
Ibarat rumput yang sudah kering, ditimpa hujan segar kembali.
Orang melarat mendapat pertolongan.
Ijuk sebelembang, tali di situ keluan di situ.(sebelembang = seberkas.)
Pencarian yang tiada memadai.
Ijuk tak bersagar, lurah tak berbatu
Tidak mempunyai saudara yang disegani orang
Ikan biar dapat, serampang jangan pukah.
Maksud biar tercapai, kerugian jangan ada. (serampang = tempuling; pukah = bengkok, patah.)
Ikan dalam keroncong.(keroncong = bilik-bilik bubu sebelah dalam.)
Tiada tertolong lagi (Tentang: Orang yang telah tertangkap).
Ikan di hulu tuba di hilir.
Perbuatan yang sia-sia.
Ikan di kuali, habis melompat.
Nasib yang malang.
Ikan digulai sudah melompat.
Nasib yang malang.
Ikan lagi di laut, lada garam sudah di sengkalan.
Sudah bersiap sedia untuk mengecap hasil yang belum lagi diperoleh. (sengkalan = pengisar rempah-rempah.)
Ikan pulang ke lubuk.
Telah kembali ke tempat asalnya.
Ikan seekor rusakkan ikan setajau.(tajau = tempayan besar dibuat daripada tanah berlapis sejenis porcelain.)
karena yang sedikit rusak yang banyak.
Ikan sekambu rusak oleh ikan seekor.
karena yang sedikit rusak yang banyak.
Ikan tergantung, kucing tunggu.
Mengharapkan untuk memperoleh barang yang diingini.
Ikan terkilat (= terkilap) jala tiba.
Sangat cepat menangkap maksud perkataan orang: tindakan yang cepat.
Ikan yang di dalam lautan yang besar-besar sekalipun, termasuk juga ke dalam pukat.
Sepandai-pandai orang, ada kalanya salah juga.
Ikannya belum dapat, airnya sudah keruh.
Perbuatan (= tindakan) yang tidak bijaksana.
Ikat boleh diubah, takuk bagaimana mengubahnya? (takuk = luka pada pohon, misalnya pada pohon kelapa tempat berpijak naik ke atas.)
Perangai yang sudah jadi tabiat sukar sekali mengubahnya.
Ikhtiar menjalani, untung menyudahi.
Untuk mencapai sesuatu maksud mestilah berusaha, berhasil atau tidaknya, terserah kepada nasib.
Ikut hakim memiat daging: sakit di awak sakitlah orang.(memiat (piat) = memiuh ke kiri ke kanan.)
Sesuatu perintah hendaklah dilakukan dengan adil.
Ikut hati mati, ikut rasa binasa, ikut mata leta.
Orang yang mengikutkan hawa nafsunya, tentu akan celaka akhirnya.
Ilmu padi, makin berisi makin runduk.
Makin banyak ilmu atau makin tinggi pangkat makin merendah diri.
Inai tertepung, kuku tanggal.
Usaha yang tak dapat diambil hasilnya karena terjadi kemalangan. (tertepung = sudah digiling.)
Indah kabar daripada rupa.
Perkabaran selalu dilebih-lebihkan daripada keadaan yang sebenarnya.
Ingat ranting yang akan melenting, dahan yang akan mencocok, duri yang akan mengait.
Hendaklah selalu beringat tentang segala bahaya dan rintangan ketika melakukan sesuatu pekerjaan.
Ingat sebelum kena, jimat (= hemat) sebelum habis.
Selalu waspada dan hati-hati; harus berusaha, jangan sampai terlambat.
Ingat-ingat yang di atas, yang di bawah akan menimpa.
Orang yang sedang berkuasa hendaklah berhati-hati menjalankan kewajipannya, jangan sampai menyusahkan orang-orang kecil, yang sewaktu-waktu mungkin akan menentang karena kelakuannya yang tidak baik itu.
Ingin di buah manggis hutan, masak ranum tergantung tinggi.
Inginkan sesuatu yang sudah diperoleh.
Ingin hati memandang (= melihat) pulau, sampan ada pengayuh tidak.
Ingin hendak berbuat sesuatu pekerjaan, tetapi alatnya tidak cukup.
Ini hari orang, besok hari kita.
Malang dan malapetaka itu tak dapat ditentukan (nasihat supaya beringat-ingat)
Intan berlian jangan dipijakkan.
Untung bahagia jangan dielakkan.
Intan dikalungkan di leher anjing.
Memberikan sesuatu (barang, nasihat) kepada orang yang tidak mau atau bukan pada tempatnya.
Intan disangkakan batu kelikir.
Tidak mengetahui harga (keadaan) yang sebenarnya.
Intan itu jika terbenam di pelimbahan sekalipun, tiada akan hilang cahayanya.
Kebenaran akan ternyata juga, walaupun disembunyikan; orang yang baik akan ketahuan juga walaupun hidupnya melarat.
Intan salah serudinya. (serudi = canai.)
Biarpun berketurunan baik, kalau tidak berpelajaran atau membuat kelakuan yang buruk, niscaya jahat dan hina juga jadinya.
Isi dada bekal berjalan.
Kalau ada ilmu ke mana pergi mudah rezeki.
Isi lemak dapat ke orang, tulang bulu pulang ke kita.
Kita yang berusaha, orang lain yang senang.
Itik berenang dalam air (= di laut) mati kehausan.
Menderita kesusahan meskipun banyak uang atau berpangkat tinggi.
Itik bertaji.
Sangat penakut, tetapi sombong.
Itik diajar berenang.
Membuat pekerjaan yang sia-sia.
Itik dimandikan takkan basah.
Orang yang degil tidak akan mendengar nasihat atau ajaran.
Itik mendapat air.
Memperoleh sesuatu yang sangat digemarinya.
Itik tak sudu, ayam tak patuk.
Tersisih daripada pergaulan karena kemiskinan.
  
   
  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar